Jumat, 26 Apr 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Andalkan Panas Matahari, Biaya Produksi Tambah jika Dioven

09 Februari 2019, 17: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

AKAN DIKERINGKAN: Lidi dupa yang dibalut serbuk siap dijemur.

AKAN DIKERINGKAN: Lidi dupa yang dibalut serbuk siap dijemur. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Hujan yang terus-menerus mengguyur Kota Marmer beberapa hari terakhir ini rupanya menimbulkan kendala bagi usaha kerajinan dupa di warga Desa Tunggulsari tersebut. Bagaimana tidak, serbuk dupa yang sudah masuk proses pengeringan harus membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar bisa kering.

Mengingat proses pengeringan batangan dupa masih dilakukan manual mengandalkan sinar matahari. "Benar, kendala itu kalau tidak ada panas dan terus-terusan hujan. Tapi kalau kini masih bisa disiasati karena hujannya datang di atas pukul 12 siang. Jadi pagi gitu segera dijemur," kata Teguh Widodo.

Dia menjelaskan, proses pengeringan itu kondisional. Jika benar panas bisa membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 5 jam. Tapi kalau panas mendung bisa lebih lama, hampir seharian. "Nah, kalau cuacanya hujan terus dari pagi hingga sore, tidak ada panas, ya otomatis kita menggunakan oven," katanya

Tapi jika menggunakan oven, otomatis biaya produksi bertambah. Kapasitas atau jumlah produksinya lebih terbatas. Karena harus melakukan pengeringan dengan cara bergantian. Nah, dampak kondisi tersebut membuat Teguh harus menaikkan harga dupa. "Sulitnya lagi ketika harus menaikkan harga karena kondisi cuaca hujan. Mengingat persaingan pasar untuk pemasaran dupa cukup ketat," tambahnya.

Meski demikian, Teguh mengaku terus berupaya memberikan produk berkualitas. Jadi, para pelanggannya tidak ke perajin lain.

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia