Selasa, 19 Feb 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Melihat Sulitnya Melatih Anak Usia Dini Bermain Mini GP (1)

11 Februari 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

HARUS SABAR: Anak-anak di bawah usia dini ketika menjajal sirkuit Stadion Menak Sopal Trenggalek.

HARUS SABAR: Anak-anak di bawah usia dini ketika menjajal sirkuit Stadion Menak Sopal Trenggalek. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Bakat, minat, dan keterampilan seseorang harus digali sejak usia dini jika ingin menorehkan prestasi di kemudian hari. Mungkin itu yang dilakukan sebagian orang tua di Kota Keripik Tempe dalam melatih anaknya yang berusia di bawah 10 tahun. Yakni,butuh kesabaran dan ketelatenan khusus saat melatih.

ZAKI JAZAI

Usia 10 tahun bagi anak merupakan masa transisi. Usia tersebut dapat memberikan banyak perubahan pada psikologi anak, baik dari segi fisik maupun dari mentalitas. Tak ayal, beberapa di antaranya mulai memasuki masa pubersitas, meskipun beberapa juga masih berpikir untuk bermain. Peran orang tua tentu sangat diperlukan untuk mengarahkan mereka sebelum memasuki usia tersebut.

Seperti yang terlihat ketika anak dengan rentang usia lima hingga 10 tahun yang mulai belajar bermain mini GP. Saat itu, terlihat para orang tua sedang memakaikan baju balap terhadap anaknya yang akan berlatih. Lengkap dengan berbagai kelengkapannya, seperti helm, kaus tangan, sepatu, dan sebagainya. Di samping itu, juga terlihat kesibukan para mekanik yang mempersiapkan kendaraan untuk berlatih. Namun sayang, tidak semua calon pembalap cilik tersebut mau langsung menjajal sepeda motornya. Ada di antara mereka yang takut untuk mencoba kendati telah memakai pakaian lengkap dan sudah mau diajak latihan sebelumnya. Beberapa juga ada yang mengurungkan niat. "Ya, beginilah anak kecil. Intinya harus bersabar dalam melatih," ungkap Haki Salma, pelatih Mini GP di Trenggalek.

Itu dimungkinkan, karena sang anak merasa tidak percaya diri atau minder setibanya di sirkuit. Sebab, saat itu banyak anak sebayanya yang dinilai lebih mahir dalam bermain daripada dirinya. Apalagi anak tersebut baru beberapa kali berlatih sehingga menimbulkan keraguan dan rasa takut akan melakukan kesalahan. "Ketika itu terjadi, kami tidak boleh memaksanya sehingga harus menunggu anak itu mau berlatih," ujarnya.

Agar mau berlatih, anak tersebut harus dibujuk. Namun cara membujuknya tidak boleh sembarangan, harus dengan tutur kata yang halus agar sang anak tidak tersinggung dan kepercayaan dirinya pulih. Dalam hal ini, diperlukan peran orang tua yang membantu membujuk sang anak. Kehadirannya sangat diperlukan dalam waktu latihan. Tujuannya, selain untuk menambah kepercayaan diri sang anak karena dilihat orang tuanya, jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti terjatuh ketika berlatih, orang tua bisa langsung memberi pertolongan pertama. Serta terus memotivasinya agar mau bangkit dan menjajal kendaraannya kembali.

(rt/did/zak/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia