Selasa, 19 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Bisnis Jajanan Tradisional Omzet Tak Tentu, tapi Tetap Eksis

23 Februari 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TETAP BERTAHAN: Wajik kletik juga cantik ketika ditata di nampan.

TETAP BERTAHAN: Wajik kletik juga cantik ketika ditata di nampan. (FOTO-FOTO SITI NURUL LAILIL M, FELLA DWI FOR RATU)

Siapa bilang membuka usaha jajanan tradisional seperti wajik kletik, madumongso, kembang gula, dan lainnya itu sulit di era gempuran jajanan modern. Buktinya, jajanan tradisional tersebut masih tetap eksis. Bahkan dengan mudah ditemui di berbagai toko oleh-oleh.

Itu tak lepas dari komitmen pelaku usaha jajanan tradisional yang mempertahankan produknya, baik dari segi rasa maupun penyajian. Seperti yang dilakukan seorang pelaku usaha jajanan tradisional, Maryati.

Dia mengatakan, olahan jajanan tradisional seperti kembang gula dan wajik kletiknya kini cukup banyak diminati masyarakat untuk dijadikan buah tangan. Itu dibuktikan dari penjualan kembang gula dan wajik kletik yang terus meningkat tiap bulan. "Cukup ramai sih peminatnya. Walaupun sekarang banyak varian jajanan yang lebih modern. Misalnya cookies, roti, keripik, atau lainnya," ungkap warga Desa Bono, Kecamatan Boyolangu ini.

Rasa yang khas membuat jajanan tradisional tersebut menjadi primadona tersendiri di hati masyarakat. Bahkan, perkembangannya kini tak sekadar jadi buah tangan, tapi juga mulai dilirik menjadi salah satu menu bawaan seserahan lamaran atau pernikahan. "Memang ini jajanan jadul, tapi tidak kalah eksis. Buktinya sekarang malah diburu jadi salah satu menu seserahan," jelasnya.

Agar tampilan kembang gula lebih menarik dan cocok untuk seserahan, lanjut wanita 55 tahun ini, sering menyajikan dengan warna-warna cerah. Misal warna merah, hijau, dan kuning.

Untuk wajik kletik, dia juga masih memilih mempertahankan penyajian alami, yakni dengan klobot atau kulit jagung. Itu karena dianggap lebih awet dan tidak lengket. "Rasanya yang enak dan legit membuat jajanan terbuat atas bahan dasar kelapa ini tetap menjadi pilihan," tambahnya.

Tak ingin mengurangi kualitas rasa, dia pun menggunakan bahan berkualitas. Rasa yang diperoleh akan lebih enak, legit, dan pastinya renyah ketika digigit. “Bahan utamanya ya kelapa dan gula. Untuk warna, biasanya menggunakan warna khusus makanan," tegasnya

Untuk harga, Maryati tidak mematok harga mahal. Olahannya yakni kembang gula, dipastikan harga Rp 23 ribu per mika sekitar 20 buah dan wajik kletik dipatok harga Rp 24 ribu per mika. Sedangkan harga kembang gula atau wajik kletik untuk bawaan seserahan disesuaikan dengan jumlah atau isi dalam kardusnya. "Kalau seserahan ya tergantung pesanannya. Banyak atau sedikit. Kalau ukuran standar kardus untuk seserahan sekitar Rp 120 ribu," jelas Maryati.

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia