Selasa, 19 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Getuk Pisang, Bisa Jadi Andalan Desa

28 Februari 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TAHAN LAMA: Getuk pisang yang sudah dibungkus kemudian dioven agar lebih awet.

TAHAN LAMA: Getuk pisang yang sudah dibungkus kemudian dioven agar lebih awet. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Keberadaan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di desa berperan penting sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekitar. Itu karena hasil produknya bisa menggenjot ekonomi warga. Salah satu usaha yang mudah dikembangkan yakni di bidang kuliner. Seperti di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru. Di desa ini banyak potensi di bidang kuliner yang cukup berkembang dan mampu menggenjot ekonomi warga sekitar. Salah satunya usaha olahan pisang, yaitu getuk pisang yang dirintis Jumrotul Muthakin.

Wanita berusia 42 tahun ini mengaku sudah merintis usaha tersebut lebih dari 10 tahun lamanya. Meski termasuk usaha kecil-kecilan, keberadaan usahanya itu pernah memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain. "Iya, dibantu warga sekitar ketika pesanan cukup banyak," katanya.

Jumrotul mengaku memulai usahanya tersebut karena ingin membantu ekonomi keluarga. Dengan resep yang didapat dari saudaranya itu, dia mengaku pembeli terus berdatangan. Padahal, pemasaran hanya melalui "gepuk tular". Terkadang juga dititipkan ke sekolah atau bahkan ke toko-toko. "Kelebihan produk getuk pisangku ini adalah daya tahannya lebih lama.

Bisa seminggu hingga 10 hari lamanya. Jika dimasukkan kulkas bisa lebih awet lagi," terangnya

Ibu tiga anak ini mengaku, sekali produksi bisa menghabiskan 10-15 sisir pisang. Untuk pisang yang digunakan bukan sembarang pisang. Yakni pisang raja nangka. Jenis pisang ini dipilih karena memiliki cita rasa manis-asam yang khas dan bertekstur agak keras. Sehingga membuat pisang ini tidak lembek ketika dikukus ketika proses pembuatan. "Kalau pisang jenis lainnya lembek. Selain itu, warnanya juga kurang bagus," katanya.

Dia mengaku, omzet yang didapat bisa tiga kali lipat dari modal yang dikeluarkan. Apalagi ketika akan Lebaran. Dia harus dibantu pekerja lebih banyak lagi. Karena produksinya lebih banyak, bisa capai tiga hingga lima kali lipat dari produksi hariannya. Itu karena getuk pisang sering kali jadi buah tangan atau untuk sajian ketika Lebaran. "Pemesannya sih lokalan. Tapi biasanya dipesan untuk buah tangan dan dibawa ke luar negeri, seperti Hongkong dan Malaysia," tandasnya.

Istri Ahmad Nasik ini mengaku, selain untuk buah tangan, getuk pisang juga dipesan untuk hajatan, arisan, rutinan pengajian, dan lainnya. Bahkan semenjak diikutsertakan dalam pameran oleh desa ke kecamatan maupun kabupaten, Jumrotul mengaku pemasarannya lebih terbantu karena lebih luas. "Kalau bantuan dari desa belum. Tapi jika diberi ya alhamdulillah. Produksi saya bisa lebih banyak. Selain itu bisa buka lapangan kerja untuk yang lain ketika membantu saya," katanya.

Namun sayangnya, usahanya kini dalam kesulitan terkait bahan baku pisang. Dia mengatakan, pisang cukup sulit didapatkan di pasaran. Jikapun ada, harganya lebih mahal. "Meski mahal, masih untung. Itu pun sedikit," tandasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia