Selasa, 19 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Usaha Kerajinan Rajut Modal Minim, Bisa Omzetkan Tiga Kali Modal

02 Maret 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BERNILAI SENI: Beragam bentuk karya kerajinan rajut. Ada dompet, tas, dan lainnya.

BERNILAI SENI: Beragam bentuk karya kerajinan rajut. Ada dompet, tas, dan lainnya. (SITI NURUL LAILIL M, SILVIA MARDIANA FOR RATU)

TULUNGAGUNG – Merajut merupakan suatu kegiatan kerajinan dengan mengaitkan benang (wol) dengan jarum khusus (hakpen) yang dibentuk sesuai bentuk yang diinginkan. Misalnya syal, sepatu, tas dan lainnya. Orang-orang dulu terutama wanita, hampir banyak yang bisa merajut. Itu biasa mereka lakukan untuk mengisi waktu luang. Namun, di era modern seperti ini, siapa sangka merajut mulai jadi lahan bisnis yang cukup menjanjikan. Apalagi ditambah kreativitas para perajut, bisa menghasilkan beragam bentuk yang pastinya bernilai seni.

Salah satu yang menekuni bisnis rajut yakni Silvia Mardiana. Warga Desa Mirigambar, Kecamatan Kedungwaru ini mengaku, berawal dari hobi merajut yang "diwarisi" oleh sang ibu, ternyata berpeluang menjadi lahan bisnis yang cukup menjanjikan. Itu dia buktikan dari banyaknya orang yang tertarik memesan hasil karyanya itu. "Awalnya hanya sekadar hobi mengisi waktu luang. Namun karena banyak yang tertarik, akhirnya memutuskan menerima orderan," ucap owner Dante Rajut ini.

Meski begitu, bukan hal mudah mengembangkan bisnis rajutannya tersebut. Selain diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam pengerjaannya, juga dibutuhkan inovasi karya baru yang lebih fresh. Jadi bisa menarik pembeli karena karya-karyanya beda dibanding kerajinan serupa lainnya.

Tak heran, untuk memenuhi pasar dan bertahan dari persaingan bisnis rajutan, Silvia mengaku sering mencari ide baru dengan browsing di internet dan foto-foto. "Terkadang karya baru itu muncul dari ide sendiri. Tapi ada juga liat foto, kemudian saya modifikasi. Saya menghindari mencontoh full," katanya

Wanita 30 tahun ini mengatakan, bisnis rajutan ini bisa dilakukan siapapun karena modal terbilang murah. “Dengan modal Rp 1 juta, mampu meraup omzet per bulan dua hingga tiga kali lipat dari modal,” katanya. Itu dari penjualan beragam karya rajut seperti tas, dompet, sepatu, kalung, dan masih banyak lainnya.

Sedangkan harga, Silvia mengaku tidak mematok mahal. Yakni mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 500 ribu. "Pemesannya cukup banyak sih. Karena biasa dipesan untuk suvenir, aksesori pribadi, dan lainnya," katanya

Untuk pemasarannya, Silvia mengaku dipasarkan melalui offline dan online. Untuk offline ikut berbagai acara seperti bazar. Sedangkan online menggunakan media sosial (medsos) seperti Instagram maupun Facebook. Tak heran, pemesan karya rajut buatannya berasal dari berbagai kota maupun kabupaten di Indonesia.

"Nah, untuk memenuhi pasar, saya dibantu empat karyawan. Dua perajut, satu pasang furing, dan satu admin. Jadi, dari bidang kerajinan ini, saya mampu membuka lapangan pekerjaan," tandasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia