Kamis, 25 Apr 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Produk Batik Makin Kreatif, Mampu Kurangi Urbanisasi

22 Maret 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

CEKATAN: Batik tulis masih menjadi primadona. Karena memiliki banyak motif dan bernilai seni tinggi.

CEKATAN: Batik tulis masih menjadi primadona. Karena memiliki banyak motif dan bernilai seni tinggi. (SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH/RATU)

TULUNGAGUNG- Desa-desa di Kota Marmer memiliki kreativitas tinggi sehingga gagasan desa kreatif dapat dikembangkan. Seperti di Desa Mojosari, Kecamatan kauman. Desa yang dikenal dengan produk batiknya itu mampu menjadi desa kreatif dan tentu juga mampu menjadi penggerak ekonomi warga sekitar. Betapa tidak, dari potensi tersebut bisa meningkatkan nilai tambah (add value) sumber daya alam (SDA) yang mereka miliki secara kreatif untuk menambah pendapatan masyarakat desa. Bahkan dalam jangka panjang akan mengurangi urbanisasi.

Di era modern seperti ini, batik malah jadi primadona. Apalagi banyaknya motif menjadikan batik ini mampu bersaing di dunia industri, termasuk dunia fashion. 

Asroful Rahdantoro, salah seorang pengusaha batik. mengatakan industri batik tidak ada matinya. Sebab, kini batik disukai semua kalangan, terutama anak muda. Mereka biasa memadupadankan batik dengan gaya fashion modern mereka. Tak heran, perkembangan fashion tersebut tidak langsung memberi dampak positif bagi pengusaha batik seperti dia. Yang sering kali mendapatkan puluhan hingga ratusan pesanan batik tiap bulannya. "Paling ramai itu biasanya digunakan seragam," katanya

Warga Dusun Krajan, Desa Mojosari ini menjelaskan, di Tulungagung memang memiliki banyak pengusaha batik. Meski demikian, untuk bisa bertahan dalam putaran persaingan, sering kali memproduksi batik dengan motif yang dikreasikan. Misal, motif parangkeris yang dikreasikan terdapat bunga rosela. Ada pula motif rujak sente yang dikreasikan terdapat motif bunga mawar dan banyak motif kreasi lainnya.

"Pembatik kita juga ada yang mengkreasikannya. Makanya, batik kami ini beda dengan batik lainnya. Bahkan, kami sering kali mendapatkan pesanan motif batik dari asal pemesan," katanya.

Agar bisa memenuhi pasar, Asroful dibantu tiga pembatik tetap yang tak lain warga sekitar. Sedangkan untuk lain-lain, misalnya proses pewarnaan dan lainnya, dibantu dua orang. Bahkan keluarganya juga terjun langsung dalam proses pembuatan. Mulai dari memola hingga sudah bentuk jadi batik. "Terkadang kalau kita mendapatkan pesanan banyak yang bersifat borongan, kita juga minta bantuan pembatik lain," jelasnya.

Dia mengatakan, pembatik yang dipilih merupakan warga sekitar. Selain karena dekat dengan tempat produksi,  juga ingin memberikan peluang pekerjaan bagi warga sekitar sehingga bisa membantu ekonomi warga sekitar.  "Untuk produknya, selain tulis, kita juga ada cap. Terkadang untuk pemasaran lebih luas, kita manfaatkan pameran-pameran. Biasanya ikut pameran desa maupun di kabupaten. Bahkan terakhir, kami juga ikut pameran di TMII," jelasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia