KABUPATEN BLITAR - Menekuni dunia entertainment tidak menjadi impian Adinda Novi Rahayu. Namun, itu berubah setelah Adinda Novi Rahayu berkeinginan bisa membeli salah satu kamera yang menjadi idamannya beberapa tahun lalu.
AKHIR 2019 lalu, perempuan asal Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari, ini memulai debutnya di bidang hiburan. Dia ingin menjajal lingkungan konten kreator. YouTube menjadi sarana untuk pamer karya entertainment tersebut. “Penginnya bikin konsep daily vlog aja,” ujarnya kemarin (9/6).
Perempuan ramah ini menceritakan serunya dinamika konten hiburan. Konten perdananya dimulai dari video night routine skincare.
Sebagai pemula, percaya diri menjadi tantangan pertama yang dihadapi. Butuh waktu lama bagi Adinda untuk menghapus rasa insecure dengan dirinya sendiri itu. “Lihat videonya kayak geli sendiri, sadar diri juga kalau gak good looking,” ungkapnya sambil tertawa.
Adinda mengaku sempat berhenti membuat konten. Cukup lama, nyaris setengah tahun dia tidak produktif. Tidak percaya diri dan belum memiliki ide menjadi alasannya.
Perempuan 21 tahun ini juga mengaku eman melihat kamera nganggur. Namun, apa boleh buat, memaksakan diri membuat karya jelas tidak optimal hasilnya. “Belum ada semangat ngonten,” katanya.
Beruntung, beberapa bulan berikutnya, dia kembali memiliki hasrat untuk membuat konten. Traveling dan kuliner menjadi inspirasinya. Akhirnya, tebersit dalam pikiran untuk membuat konten kuliner, yakni mukbang. “Sebenarnya sudah ada beberapa video makanan, tapi tidak pernah di-upload,” akunya.
Setelah produksi beberapa konten, Adinda menyadari lingkungan entertainment ini tidak mudah. Indikasinya, dari lima konten yang dia produksi, jumlah followers yang dia miliki tidak naik signifikan.
Namun, bukan berarti usahanya sia-sia. Kerja sama pertama pun dia dapatkan, yakni barter. “Setelah bikin video barter konten, saya buat konten jajan sendiri,” paparnya.
Dinda merasa sangat senang dengan penghasilan pertamanya. Meskipun tak banyak, tapi itu menjadi salah satu bentuk apresiasi baginya. Dulu pertama masih dapat Rp 25-50 ribu saja. “Kalau sekarang harganya bedabeda, tergantung jenisnya,” jelasnya.
Menurutnya, followers menjadi salah satu hal penting yang mendukung kesuksesan. Sebab, semakin banyak followers, jangkauan karya jelas lebih luas. Hal ini juga memperbesar peluang pendapatan bagi para pekerja konten kreator. “Kuncinya konsisten bikin konten,” tuturnya.
Adinda menyadari proses untuk menjangkau banyak viewers itu cukup sulit. Pada tahun pertama, followers hanya naik 10 ribu. Namun, saat ini sudah berjalan 3,5 tahun dan jumlah itu tidak bertambah. Yakni di bawah 15 ribu followers. “Saya sempat vakum beberapa bulan, jadi pertumbuhan followers terhambat,” tandasnya. (tan/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan