JAWAPOS.RADARTULUNGAGUNG.COM – KA lokal mengalami perubahan nama, jadwal, dan harus transit di Stasiun Blitar. Meskipun begitu, masih menggunakan satu tiket seperti biasa dan tidak ada kenaikan tarif. Perubahan tersebut dilakukan karena penambahan frekuensi di Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2023.
Vice President Kereta Commuterline Indonesia (KCI) Anne Purba mengatakan, pemisahan kereta lokal Dhoho Penataran ini untuk upaya penambahan frekuensi perjalanan. Blitar-Surabaya via Malang tetap ada 4 kereta pulang pergi (PP), sedangkan Blitar-Surabaya via Kertosono menjadi 5 kereta PP atau 10 kereta. Pola rekayasa memang menyesuaikan dengan kapasitas angkut di operasional.
“Penambahan frekuensi ini karena di jalur Kertosono hingga Surabaya terdapat double track. Untuk tarif maksimal tidak ada peningkatan, tapi dengan ada pola transit ini nantinya akan ada perubahan tarif untuk perjalanan pendek. Hal ini masih dalam perencanaan sehingga masih menggunakan tarif yang lama,” ungkapnya.
Baca Juga: Melihat Uji Kompetensi Pekerja Kontruksi di Forjasi Tulungagung, Fleksibel Layani Setiap Hari
Wakil Kepala Stasiun Tulungagung Supanca Ibadrianto menambahkan, untuk perjalanan 1 Juni, KA lokal berganti nama. Dulu dengan nama Dhoho Penataran, kini berganti Commuterline Dhoho Blitar-Surabaya via Kertosono. Kemudian untuk Blitar-Surabaya via Malang bernama Commuterline Penataran. Penumpang masih dikenakan harga yang sama dan satu tiket, cuma transit di Blitar. Dulu sempat ada wacana dua tiket, tetapi dari KCI banyak mendapatkan masukan sehingga ditetapkan 1 tiket.
Ada perubahan jadwal lebih maju dari biasanya, tetapi berkisar jarak waktu satu hingga dua jam saja. Selain itu, ada dua penambahan perjalanan pulang pergi. Jika dulu 8 perjalanan, sekarang menjadi 12 perjalanan. Alasan dipisahnya Dhoho Penataran untuk membedakan lajur perjalanan dan mempermudah dalam perjalanan penumpang yang menuju Surabaya.
Pria asli Mojokerto ini mengaku, fasilitas untuk yang dahulu dan sekarang sama. Kecepatan commuter line juga masih sama sesuai perjalanan dan tidak berkurang dari sebelumnya. Namun yang menjadi perbedaan yaitu penambahan waktu tempuh. Itu lantaran terdapat stasiun yang reaktivasi. Seperti Stasiun Ngujang yang dulunya tidak melayani naik turun penumpang, sekarang melayani pemberangkatan penumpang.
Baca Juga: Pererat Silaturahmi, BRI Gelar Family Gathering BRIlinkers Tulungagung
“Nanti KA commuter line transit di Blitar sekitar 20 menit. Misal, commuter line Dhoho dari Tulungagung transit di Blitar menunggu kereta datang 10 menit dan menunggu penumpang masuk 10 menit,” tandasnya.
Pria yang sudah dua tahun ditugaskan di Tulungagung ini mengaku, dalam Gapeka 2023 ini, dimungkinkan volume penumpang meningkat. Namun, pada perjalanan 1 Juni masih normal seperti biasa dan diprediksi akan meningkat ketika weekend.
Sementara itu, penumpang KA Dhoho Penataran, Madcha Jazuli mengatakan bahwa cukup kaget ketika mendengar kabar kebijakan transit KA lokal di Stasiun Blitar karena sempat berpikir akan membeli tiket dua kali. Namun, setelah ada sosialisasi dan mengecek aplikasi, pembelian tiket tetap satu dengan tarif yang sama. “Namun sedikit ribet untuk ke Malang, karena harus turun dan menunggu kereta komuter Penataran untuk ke Malang,” pungkasnya.(jar/c1/din/rka)
Baca Juga: Purnawiyata SDI Al Badar Luluskan 68 Siswa, Bertema Meraih Prestasi Bukan Hanya Sebatas Mimpi
Editor : Nurul Hidayah