Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sonny Yuliono, Perupa Asli Blitar Melukis di Dalam Balok Es, Ini Rahasianya

Doni Setiawan • Selasa, 13 Juni 2023 | 18:54 WIB
AKROBAT: Soni menunjukkan karyanya.
AKROBAT: Soni menunjukkan karyanya.

KOTA BLITAR - Beberapa tahun terakhir, Sonny Yuliono memiliki cara sendiri untuk mengasilkan karya seni. Sedikit tak lazim, belum lama ini dia melukis di bawah tekanan suhu ekstrem. Menurutnya, itu menggambarkan kehidupan sang proklamator.

Minggu (11/6) pagi itu, halaman Kantor Pemerintah Kota Blitar disulap menjadi tongkrongan masyarakat. Sebanyak 48 pedagang membuka lapak jualan mengelilingi halaman. Sementara, sisa tempat lainnya dipadati oleh para pengunjung.

Beberapa panitia 2nd Soekarno Coffee Fest tampak riuh mempersiapkan perlengkapan untuk membuat lemari es. Mereka menyusun puluhan es balok menjadi sebuah ruangan sempit bersuhu ekstrem. “Atraksi melukis di ruangan es balok ini masih perdana,” ujar pria berambut panjang yang tak lain adalah Sonny Yuliono.

Pria asal Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan ini mengaku terinspirasi dari kisah Bapak Proklamator Bangsa, Soekarno. Presiden pertama Negara ini lahir jelang fajar dan meninggal saat matahari terbenam.

Karena itu, dia berkeinginan membuat karya yang dimulai saat terbit fajar dan selesai saat matahari terbenam. Tidak hanya sekedar menggoreskan kuas, dia melakoni proses karya ini dalam lingkungan yang tak biasa. Menurutnya, itu juga menjadi analogi perjuanganan Soekarno dari lahir hingga wafat. “Jadi inspirasi untuk melukis selama 12 jam,” jelas pria ramah ini.

Atraksi ini sudah direncanakan sejak lama. Sonny mengaku ide atraksi tersebut didapatkan dari dirinya sendiri. Dia menginginkan berada dalam di tempat tertutup dan ada penderitaan di dalamnya. Sebab, semasa hidup Soekarno sering berada di pengasingan bahkan hingga penjara. Meskipun begitu, beliau selalu menciptakan hasil karya. Semangat Bung Karno menjadi inspirasi baginya. “Kebetulan saat ini saat Bulan Bung Karno juga,” imbuhnya.

Menurutnya, waktu 12 jam melukis di ruangan tersebut terhitung sangat lama. Sebab, dia berada di ruangan dengan suhu yang tidak sewajarnya. Meskipun begitu, hasil lukisannya tetap mencuri perhatian ratusan pasang mata. “Lukisan seperti ini bisa dilakukan cepat atau lambat, menyesuaikan target keinginan,” katanya.

Pria 50 tahun ini mengaku lemas saat berada di ruangan. Akan tetapi, dia berusaha untuk mengimbangi kondisi tubuhnya agar tidak tumbang. Tidak dapat dipungkiri, saat terlalu lama kedinginan, kondisi tubuh akan melemah. Dia menyiasati dengan memperbanyak minum, seperti susu dan kopi. “Kalau terlalu banyak makan justru bisa mengakibatkan sakit perut,” jelasnya.

Lanjut dia, pemenuhan gizi sangat diperlukan saat melakukan atraksi tersebut. Upayakan untuk minum yang mengandung banyak kalori. “Minuman tersebut bisa membantu menambah stamina,” tuturnya.

Dalam tiga tahun terakhir, Sonny lebih banyak melakukan performa yang dibalut dengan atraksi. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa tujuan. Dia ingin memunculkan ketertarikan masyarakat terhadap dunia seni lukis. “Kalau hanya melukis sudah biasa, tapi kalau ada atraksi pasti dapat menjadi pusat perhatian,” ungkap pria ramah ini.

Sonny mengaku telah melakukan persiapan sebelum melakukan atraksi, utamanya untuk menjaga kesehatan fisik. Dia mengatur pola tidur teratur, yakni 8 jam sehari. Selain itu, tak lupa dia juga mengonsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. “Untuk menjaga keselamatan saat melakukan perfom,” akunya.

Dia menyebutkan, atraksi ini menjadi tantangan baru baginya. Satu hingga dua jam pertama digunakan untuk penyesuaian suhu. Sebelum rasa dingin menyelimuti, dia membuat sketsa terlebih. Tujuannya agar saat tubuh sudah dingin, sketsa sudah jadi. Sehingga hanya menambah warna. “Kalau sudah dingin sulit berpikir,” paparnya.

Dia menambahkan, hasil karyanya tersebut adalah realis. Akan tetapi, lukisan realis yang ekspresif. Sehingga, dia lebih memainkan karakter. Agar masyarakat bisa mengenali tokoh dari hasil karya tersebut. “Kalau karya ini termasuk goresan kasar, kalau halus bisa sampai berhari-hari,” tandasnya. (*/hai)

Editor : Doni Setiawan
#perupa blitar #melukis dalam es balok #soekarno coffe festival 2023