KOTA BLITAR – Jumlah pengguna listrik prabayar di kota Blitar terus bertambah. Kendati begitu, layanan kelistrikan ini juga diwarnai dengan keluhan pelanggan. Itu terjadi karena data pelanggan tidak sinkron sehingga tak bisa isi pulsa listrik.
Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blitar, Sukardi mencatat setidaknya ada 20 pelanggan yang mengajukan migrasi dari listrik pascabayar menjadi listrik prabayar setiap hari. “Paling sering rumah kosong yang ditinggal pemiliknya kerja di luar negeri,” ujarnya.
Menurutnya langkah migrasi ini cukup efektif untuk mencegah pembengkakan atau denda. Sebab, dengan menjadi pelanggan prabayar, seraca otimatis listrik mati ketika kuota listrik habis. Dengan begitu, mereka tidak perlu khawatir ada denda atau diputus dari langganan karena tidak bisa bayar listrik.
Dia menambahkan alasan lain masyarakat memilih migrasi ke listrik prabayar karena bisa dengan mudah mengontrol penggunaan listrik sesuai kebutuhan. “Kalau listrik prabayar jika pulsa habis otomatis listrik akan mati. Beda dengan pascabayar, kalau menunggak kan bayarnya harus dobel,” katanya.
Disisi lain, ternyata penggunaan listrik prabayar memiliki beberapa kekurangan. Sukardi mengungkapkan rerata lima orang pelanggan datang ke kantor untuk mengajukan komplain. Alasannya karena token listrik yang tidak bisa diisi.
Sukardi menjelaskan, hal itu disebabkan data pengguna listrik yang tidak sinkron antara perusahaan pemasangan listrik dengan pihak PLN. Sehingga pengguna harus mengganti nomer meteran baru.
“Setiap sepuluh tahun data pengguna harus diupgrade. Kalau tidak sesuai otomatis data tidak sinkron dan token tidak bisa diisi ulang,” katanya.
Masalah lain seperti kWh listrik yang sudah over limit, gangguan instalasi listrik, dan server error.
Namun untuk mengatasinya pihak PLN mengaku pengguna bisa mengajukan komplain baik secara online melalui aplikasi PLN mobile maupun datang ke kantor.
“Kami usahakan akan diproses di hari yang sama. Kalau gangguan terjadi di malam hari, akan diproses besok pagi,” ungkapnya. (mg2/hai)