RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Pencemaran sungai, masih jadi tantangan yang nyata bagi berbagai pihak. Komunitas penggiat lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung pada Senin pagi (12/6) menyisir Sungai Ngrowo yang berbatasan dengan Desa Plandaan dan Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.
Dari hasil penyisiran, komunitas pegiat lingkungan berhasil mengumpulkan 100 kg sampah plastik sepanj
Mereka sudah berkumpul di jalan pinggir Sungai Ngrowo sejak pukul 09.00 WIB dengan perlengkapan kebersihan, perahu karet, dan alat laboratorium. Tiga kelompok dengan perahu karet berisikan dua orang menyisir Sungai Ngrowo dengan dipimpin para petugas kebersihan yang memakai perahu diesel. Penyisiran dimulai dari Jembatan Plengkung di Jalan KHR Abdul Fatah hingga jembatan Desa Plandaan–Tawangsari.
“Kegiatan susur Sungai Ngrowo ini dilakukan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup. Mengajak para komunitas lingkungan hidup untuk membersihkan sampah, mengambil sampah di badan sungai dan bantaran selatan hingga utara,” ujar Manajer Program Advokasi dan Litigasi Ecoton, Azis.
Mereka menyusuri sungai sepanjang 1 kilometer dengan waktu 1 jam hingga berhasil mengumpulkan sampah sekitar 100 kilogram. Bahkan, sampah tersebut memenuhi mobil pikap yang dibawa relawan. Parahnya, menurut Azis, aliran sungai di samping pondok Mangunsari merupakan penyumbang sampah terbanyak.
Dari hasil temuan itu, Azis menyimpulkan bahwa Sungai Ngrowo tercemar sampah karena banyak ditemukan di badan sungai. Apalagi, Sungai Ngrowo termasuk kategori kelas 3 yang seharusnya nihil dari sampah.
Tidak hanya itu, setelah mengumpulkan sampah-sampah, para relawan melakukan audit merek. Yakni, metode untuk mengidentifikasi sampah yang ada di Sungai Ngrowo sehingga dapat diketahui merek atau perusahaan apa saja yang mendominasi menjadi kotoran. Selain itu juga dapat mengetahui karakteristik sampah, apakah itu produk makanan, perawatan pribadi, minuman, atau yang lainnya.
Anggota Ecoton mengajari audit sampah dengan memilah-milah berdasarkan merek melalui alat pendeteksi barcode yang mirip seperti di minimarket. Alat itu dihubungkan langsung ke laptop dan dapat diketahui profil merek dari produk sampah tersebut.
“Audit ini juga merupakan salah satu cara untuk advokasi atau tindak lanjut kepada produsen. Jadi, produsen wajib bertanggung jawab terhadap sampahnya. Hal itu berdasarkan pasal 15 UU nomor 18 tahun 2018,” terangnya.
Azis mengungkapkan, sampah yang ditemukan berupa diaper, sampah saset makanan ringan, dan air mineral yang susah diuraikan sehingga membutuhkan proses lama. Jika sampah tersebut ada di Sungai Ngrowo hingga 5 tahun atau 10 tahun, maka sudah dipastikan tidak bisa diurai karena kemasannya berlapis-lapis.
Apabila dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur, pencemaran sampah di Tulungagung dalam kategori sedang. Itu lantaran ditemukan banyak sungai di daerah Surabaya yang terdapat titik timbulan sampah. Jika di Sungai Ngrowo ditemukan 100 titik timbulan sampah, di Surabaya bisa lebih dari itu.
Namun, pada tahun lalu, teman komunitas lingkungan hidup Tulungagung menemukan 50 titik timbulan sampah. Komunitas tersebut mengonfirmasi kepada Ecoton bahwa ada lebih dari itu sehingga pada tahun ini dilakukan susur sungai. Oleh karena itu, harus ada sarana prasaran sampah, tempat sampah, atau pengolahannya.
“Sebenarnya komunitas lingkungan di Tulungagung juga sering melakukan bersih sungai, tapi tetap banyak ditemukan sampah. Hari ini (kemarin, Red) akan ditindaklanjuti dengan langsung memaparkan hasilnya kepada DLH Tulungagung pada Minggu malam dengan berdisukusi. Dari hal itu, harapan kami ada aksi dari pemerintah ke depannya,” ungkap Azis.
Sementara itu, Haris Fajar Kurniawan, anggota Geogreen Park, ketika ikut susur Sungai Ngrowo menemukan banyak sampah yang ikut aliran sungai, seperti sampah rumah tangga dengan didominasi sampah-sampah plastik. Hal itu merupakan kebiasaan manusia yang sulit dibendung, apalagi tidak diolah oleh pemerintah setempat. Dia berharap pemerintah bisa menyediakan tempat sampah di perkampungan agar masyarakat membuang sampah pada tempatnya, bukan di sungai.
“Saya ketika susur sungai menemui kesulitan berupa vegetasi yang rimbun di sebelah sungai sehingga mengganggu pengambilan sampah. Sebenarnya vegetasi itu bagus untuk filter air, tapi menyulitkan untuk mengambil sampah,” pungkasnya.(*/c1/rka)
Editor : Intan Puspitasari