KOTA BLITAR - Tompo, wadah tradisional dari anyaman bambu, kini mulai jarang ditemui. Namun, di balik tangan kreatif Diah Yulianti, barang langka itu terus dilestarikan dan dikembangkan menjadi berbagai bentuk dan fungsi. Salah satunya, bisa untuk tempat mahar pernikahan.
Meski usianya tak lagi muda, tidak mengurangi kreativitas Diah Yulianti untuk terus menciptakan inovasi dari kerajinan anyaman bambu. Menganyam sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat itu.
Saat koran ini berkunjung ke rumahnya kemarin (14/6), terlihat puluhan anyaman tompo bertumpuk di teras rumahnya. Ada yang sudah diikat dan siap kirim. Namun, ada beberapa yang masih dalam proses pengerjaan. Di sisi lain, tampak beberapa kerajinan lain yang digantung di tembok.
Sebagai informasi, tompo atau tumbu bambu adalah wadah perabotan zaman dahulu. Biasanya digunakan untuk mesusi (mencuci) beras. Namun, seiring berkembangnya waktu, fungsi tompo semakin beragam.
Perempuan ramah itu mengaku sudah belajar menganyam sejak kelas empat sekolah dasar (SD). Usaha kerajinan tompo itu merupakan bisnis turun-temurun dari keluarganya. “Sejak kecil sudah diajari Bapak menganyam. Dulu hanya tompo. Sekarang saya kembangkan bermacam-macam bentuk,” ungkapnya.
Mulai 2013, dia mengembangkan kreativitas anyamannya yang lain sesuai tren kebutuhan di masyarakat. Seperti tas anyaman, tempat tisu, tas kecil untuk suvenir, tompo kecil untuk wadah kenduri, keranjang atau rantang, wadah nasi, hingga tempat mahar pernikahan. “Ya, khusus tempat mahar itu dulu memang pesanan dari konsumen. Kadang mereka membawa gambar sebagai contoh,” terang perempuan 52 tahun ini.
Diah mengaku, kerajinan anyaman tas untuk suvenir pernikahan banyak diminati. Ketika musim hajatan, Diah bisa menerima 200 sampai 300 pesanan setiap minggu. Kemudian, 100 hingga 200 pesanan untuk tompo. “Untuk suvenir paling sering pesanan online. Kalau khusus tompo sudah ada yang mengambil, dari lokal dan Tulungagung,” ungkap ibu dua anak ini.
Cuaca panas seperti saat ini sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas anyaman yang bagus. Sebab, bambu yang benar-benar kering akan mudah dibentuk dan awet. Tak ayal, musim penghujan bisa menjadi penghalang dalam pembuatan anyaman.
Ketika menggunakan bambu yang masih basah, tompo akan mudah menjamur dan tidak tahan lama. Sebagai antisipasi, dia menyiapkan alternatif yakni mengeringkannya dengan cara dipanggang di atas tungku yang dibakar. Fungsi tungku tersebut sebagai pengganti cahaya matahari. “Itu saya lakukan ketika masuk musim hujan. Makanya, saya tidak berani ambil banyak pesanan. Takutnya, kualitas bambu berkurang sehingga mengecewakan pelanggan,” terangnya.
Pandemi Covid-19 yang menghantam beberapa waktu lalu juga berdampak buruk terhadap usahanya. Pasalnya, peminat anyaman bambu berkurang. Meskipun sempat beberapa kali melayani pesanan, tetapi hanya pelanggan rutin yang meminta jatah setiap bulan. Itu pun jumlahnya dikurangi separo dari biasanya.
Kini, permintaan anyaman bambu mulai ramai kembali. Apalagi ketika musim hajatan dan selamatan. Dalam sehari, Diah bisa mengerjakan 50 tompo. Dia dibantu oleh suaminya, Imam Tohari. Namun, ketika banyak pesanan, dia mengajak sanak saudaranya untuk membantu produksi. “150 tas anyaman bisa selesai dalam seminggu. Tergantung jenis pesanannya. Kalau tas anyaman memang lumayan rumit,” jelasnya.
Diah berupaya untuk mempertahankan kerajinan anyaman. Karena selain usaha turun-temurun, itu juga menjaga warisan budaya leluhur. Apalagi, saat ini banyak orang menggunakan perabot rumah tangga berbahan plastik. Bukan mengapa, Diah hanya berharap supaya masyarakat lebih menghargai lingkungan.
Caranya dengan kembali menggunakan wadah dari anyaman bambu yang ramah lingkungan. “Asal perawatannya bagus, insya Allah awet. Kalau pakai bambu kan tidak mencemari lingkungan,” tuturnya lantas tersenyum.(*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan