KOTA BLITAR - UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno terus bertransformasi berbasis inklusi sosial. Selama tiga hari, 13-15 Juni, perpustakaan yang berlokasi di kompleks wisata Makam Bung Karno (MBK) itu menggelar workshop Literasi Pemanfaatan Daur Ulang Limbah berupa patchwork and quilting. Para peserta dilatih untuk mengolah kain perca menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.
Pelatihan selama tiga hari itu dibimbing langsung oleh Nisa Hariadi bersama tim dari Jakarta. Di hari terakhir kemarin (15/6), peserta belajar mengolah minyak goreng bekas (jelantah) menjadi sabun dengan dibimbing langsung tim dari Paguyuban Bank Sampah Kecamatan Sananwetan. Pelatihan itu dilaksanakan di amfiteater perpustakaan Bung Karno. Sejumlah 100 orang peserta antusias mengikuti pelatihan tersebut. Menariknya, sebagian dari peserta merupakan orang berkebutuhan khusus.
Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Nurny Syam, melalui Pustakawan Utama Hartono menyampaikan, perpustakaan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, dan berlatih keterampilan. Tujuannya, membangun daerah serta masyarakat agar berdaya saing. Selain itu, meningkatkan kreativitas dan mengurangi kemiskinan terhadap akses informasi.
Menurut Hartono, literasi mencakup kemampuan membaca kata dan dunia. Kata kunci keberhasilan adalah ketekunan, kerja keras, dan terus belajar. “Integrasi kegiatan literasi ini senada dengan pemikiran Bung Karno terhadap kemandirian ekonomi dalam pemikiran Tri Sakti Bung Karno,” ungkapnya kemarin.
Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial memberikan ruang yang sama kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan begitu, perpustakaan menjadi tempat yang inklusif, termasuk kaum yang termarjinalkan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam membangun bangsa Indonesia. “Di sinilah tempat belajar bersama, berkegiatan, bertukar ide, serta pengalaman. Harapannya menjadi manusia yang unggul, sejajar dengan negara-negara maju lainnya,” tutur pria ramah ini.
Setidaknya dengan keterampilan patchwork (mengolah kain perca jadi kerajinan bernilai), peserta semakin terampil menggabungkan potongan kain perca hingga membentuk karya yang menarik dengan berbagai bentuk geometri, motif, atau warna. Kemudian untuk quilting, peserta menjadi semakin kreatif menggabungkan kain perca dengan ukuran dan potongan tertentu. Lalu, mebentuk motif-motif yang unik. “Minimal bisa menjadi barang kerajinan untuk keluarga ataupun lingkungan sekitar,” tandasnya. (han/her/bud/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan