KOTA BLITAR - Menekuni public speaking bukan tanpa alasan bagi Kurniawan Bahyu Sadewa. Kini, dia telah menjelajah di dunia tersebut. Dia juga memanfaatkan kemampuannya itu beriringan dengan profesinya sebagai guru.
Di sudut gedung kesenian Aryo, Kota Blitar, tampak beberapa orang sedang menyiapkan panggung pertunjukan. Mereka mengatur dekorasi tempat yang akan dipakai kegiatan purnawiyata. Salah satunya, Kurniawan Bahyu Sadewa. Mengetahui kedatangan kami, dia menyapa wartawan Koran ini dengan ramah. Dia lantas mengajak untuk duduk dan berdialog tentang perjalanan karirnya.
Pria asal Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, ini menceritakan secuil kisah pasang surut perjalanannya di dunia public speaking. Bahyu, sapaan akrabnya, mulai terjun di dunia public speaking saat masih duduk di bangku SMP. Dia mulanya hanya mengisi event dies natalis di sekolahnya. Yakni, sebagai master of ceremony (MC). “Saat itu masih kelas VII, disuruh jadi MC dadakan,” ujarnya.
Ketertarikannya di bidang MC bermula saat mulai mencoba. Menurut dia, seorang MC itu bukan artis, melainkan bisa menjadi pengendali acara. Selain itu, MC juga bisa mengenal banyak orang. Mulai dari rekan dekor, rekan event, pengisi acara, hingga tamu undangan. “Sehingga menjadi MC bisa memiliki relasi yang lebih luas,” ungkapnya.
Dia mengaku sempat kesulitan memberikan perlakuan kepada penonton dan masih ragu untuk menguasai acara. Bahkan, dia juga takut untuk berinteraksi dengan penonton. Tak heran jika pada 2005 itu pembawaannya masih terasa kaku. “Saya masih bingung cara menarik perhatian penonton,” katanya.
Rasa terbawa perasaan sempat melekat pada dirinya. Hal itu terjadi saat ada penonton yang tak memperhatikannya. Dia merasa penonton tidak menghargai keberadaannya. Padahal, itu menjadi tugasnya untuk memusatkan perhatian. “Saya ngomong di panggung, tapi penonton malah gaduh dan ribut sendiri,” jelasnya sambil tertawa.
Minat pada dunia MC mulai reda saat duduk di bangku SMA. Sebab, dia lebih fokus pada organisasi. Meskipun begitu, dia terus mengasah public speaking-nya. Baginya, publik speaking menjadi modal utama yang harus dimiliki semua orang. “Kalau saat SMA, saya lebih aktif di organisasi, seperti sosialisasi dan lain sebagainya,” kata pria 30 tahun ini.
Dia mengatakan, masa kuliahnya tak dinikmati di dunia akademis saja. Di tengah masa kuliahnya, dia kembali aktif pada public speaking, terutama MC. “Saat kuliah, latihan MC lebih intens,” jelasnya.
Sekitar 2014 lalu, dia mengikuti salah satu workshop yang diadakan oleh Dispora Kabupaten Blitar (dulu disparbudpora). Beruntung, dia masuk 20 besar yakni 10 putra dan 10 putri. “Pada workshop tersebut diajarkan beberapa materi MC seperti MC wedding, engagement, protokoler, dan sebagainya,” paparnya.
Dia mengaku ada satu momen yang membuat dirinya bangga. Yakni, saat menjadi MC di acara Home Coming Mr Global Indonesia. Saat itu, event besar tersebut terselenggara di Kabupaten Lamongan. “Event tersebut digelar setelah menang acara lalu pulang kampung,” terangnya.
Tidak sedikit upaya yang dilakukan untuk menjadi MC dalam event besar tersebut. Dia berhasil terpilih untuk memandu acara karena pernah mengikuti Global Super Camp. Kemudian, Regional Director Mr Global Jatim menghubunginya untuk menjadi MC. “Saya tidak menyangka bisa ditunjuk untuk menjadi MC,” tandasnya.
Baginya, public speaking dapat menjadi bekal bagi seseorang. Secara tidak langsung, kelihaian dalam public speaking dapat menentukan nilai jual dan menciptakan value pada diri seseorang. “Public speaking yang baik dapat menunjukkan kewibawaan seseorang,” katanya.
Bayu memaparkan, branding diri juga tak kalah penting. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mem-branding diri. Di antaranya, mencari potensi diri dan menentukan posisi diri. Artinya, ingin dikenal sebagai apa dan siapa. Kemudian, tak kalah penting adalah konsisten dan fokus. “Secara tidak langsung, langkah tersebut dapat menambah relasi,” sebutnya.
Tak berhenti di situ, kini dia juga berkecimpung pada dunia pendidikan. Dia berani terjun untuk menjadi pendidik di anak usia taman kanak-kanak (TK). Menurut dia, penguasaan public speaking sangat berperan dalam hal tersebut. Sebab, berdialog dengan anak itu harus menggunakan berbagai cara. Misalnya, dengan kode tepuk, bernyanyi, dan lainnya. Kode tersebut bertujuan untuk mengendalikan anak agar bisa nurut. “Kalau berhadapan dengan anak kecil harus bisa bangun mood yang bagus. Harus ceria, semangat, tapi tetap tegas,” tandasnya. (*/c1/din)
Editor : Doni Setiawan