Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kualitas Air Sungai Di Tulungagung Buruk, Nyaris Tak Ada Oksigen Untuk Biota Air

Nurul Hidayah • Senin, 19 Juni 2023 | 18:10 WIB
BERANI KOTOR:  Ecoton mengumpulkan sekitar 100 kg sampah hasil susur sungai.
BERANI KOTOR: Ecoton mengumpulkan sekitar 100 kg sampah hasil susur sungai.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Kualitas air di empat sungai yang mengalir di Kota Marmer ternyata jelek dan di bawah baku mutu. Akibatnya, tidak ada mahkluk hidup atau biota air yang tinggal di sungai. Hal itu dampak dari limbah pabrik dan sampah rumah tangga. Itu berdasarkan penelitian Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) baru-baru ini.

Kegiatan uji kualitas air dilakukan di empat lokasi. Yakni di Desa Plandaan, Desa Tawangsari, di bawah Jembatan Plengkung Mangunsari, dan di dekat outlet pembuangan limbah cair Pabrik Gula Modjopanggoong. Tercatat di Desa Plandaan kadar DO (dissolved oxygen) yakni 2,4 mg/L; di Desa Tawangsari 2,2 mg/L; di Jembatan Plengkung Mangunsari 2,2 mg/L, dan di dekat pembuangan limbah cair Pabrik Gula Modjopanggoong 0,4 mg/L.

“Parahnya ketika kami melakukan uji kualitas air di bawah Jembatan Plengkung, kami menemukan banyak ikan yang megap-megap, karena kekurangan oksigen. Menandakan ikan itu terancam terjadinya kematian massal, bila kualitas airnya buruk,” ujar Manajer Progam Advokasi dan Litigasi Ecoton, Azis.

Hal itu menjadi atensi bagi Ecoton. Maka dari itu, pihaknya juga mendeteksi kualitas air sungai di dekat pabrik gula. Apakah limbah pabrik gula memengaruhi kualitas air di Sungai Ngrowo, bila benar akan ditindaklanjuti ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung. Itu lantaran oksigen terlarut (DO) normalnya 5 dan 6 yang bagus untuk ekosistem sungai.

Sementara itu, hasil pemeriksaan di sungai dekat PG menghasilkan angka DO 0,4 mg/L, artinya sangat nge-drop dan hampir tidak ada oksigen yang terlarut di air. Selain itu, suhu menunjukkan 35,6 derajat Celsius. Angka itu cukup hangat menuju ke panas sehingga tidak memungkinkan biota sungai atau hewan hidup di sungai tersebut. Azis pun mengaku tidak melihat hewan hidup di sungai tersebut. Dia juga merasakan hangat di kulit kakinya hingga masuk ke pori-pori, apalagi suhunya mencapai 39 derajat.

“Menjadi catatan penting bagi sungai, yakni oksigennya. Ketika sungai tidak ada oksigen, maka ikan akan mati. Ini yang mengkhawatirkan, karena sungai ini mengalir hingga Sungai Ngrowo dan Sungai Brantas yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Maka dari itu, IPAL harus diperhatikan oleh perusahaan,” terang Azis.

Semakin ke hilir kondisinya semakin parah karena volume sampah semakin banyak, lantaran membuat dampak akumulatif. Sebenarnya sungai bisa menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi ketika akumulasinya semakin banyak, maka akan tidak seimbang antara debit air turun dan limbah.

“Hasil kegiatan uji kualitas air ini akan kami buat laporan untuk DLH Tulungagung dan Gakkum Jabalnusra yang ada di Surabaya. Hal itu untuk segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut atas pembuangan limbah cair, agar segera memperbaiki dan mengolah air limbahnya terlebih dahulu sebelum dilepas ke sungai,” pungkasnya.(jar/c1/rka)

Editor : Nurul Hidayah
#bagus #ngrowo #kurang #sungai