RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Umumnya, kera-kera yang berkeliaran di area Makam Desa Ngujang bukanlah menjadi alat pesugihan seperti yang dirumorkan pada media sejauh ini. Ini dijelaskan oleh Mbah Riboed, Juru kunci yang berperan besar pada makam Ngujang sejak 23 tahun yang lalu.
Komunitas kera ternyata sudah ada sebelum Desa Ngujang didirikan. Dari asal-usul ini, bahwa ceritanya ada banyak versi yang mengklaimnya. Salah satunya, tentang Petilasan Sunan Kalijaga. Bahwa beliau lah yang menciptakan nama “Ngujang” sejak beratus tahun yang lalu. Dilihat dari perspektif yang logis, bahwa nama Desa Ngujang diambil dari kata “Ngu” dan “Wejangan”.
Pada masa itu, diceritakan Sunan Kalijaga menemukan seekor kera ketika singgah, dan beliau melihat kera itu meloncat-loncat dari pohon satu ke pohon lainnya ketika sedang memberikan ajaran (wejangan) kepada murid-muridnya. Lambat laun beliau memberikan nama tempat tersebut menjadi Desa Ngujang. Letaknya berada di Perbatasan Jembatan Ngantru-Kedungwaru, Jln. Trunojoyo no 2.
Untuk pelestariannya, kera dapat hidup mandiri. Demi mejaga kelestarian satwa tersebut, terkadang ada beberapa orang yang datang untuk ziarah atau hanya singgah saja, tetap berkenan ingin memberi makanan atau memberikan pesangon untuk penjaga makam. Ada juga yang membantu Juru kunci untuk ikut serta tanggung jawab makam, yaitu Mbak Kom, petugas area makam.
Saat ini, yang jadi masalahnya adalah aktivitas oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Seperti menebang pohon, pembangunan liar, dan penangkapan kera. Warga sekitar hanya membiarkan ketika ada kera yang berkeliaran di sekitarnya. Dipercaya bahwa kera-kera tersebut diciptakan untuk memberikan tulak untuk yang mengasihi, dan juga dapat menjadi petaka untuk yang mengganggunya.
Pada masa kepemimipinan Bupati Tulungagung periode ke-29, banyak memberikan kompensasi dengan cara berkunjung dengan memberikan pisang 10-20 tundun, kadang telur sebanyak 10 tray dan diberikan secara langsung kepada Juru Kunci untuk rasa berterima kasih telah menjaga tempat ini dengan pelestariannya. Tapi, semenjak pelantikan pemerintah diperbarui, kompensasi tiba-tiba terhenti. Disamping itu, Pemerintah desa juga masih belum bergerak terkait pelestarian lanjutan wisata tersebut. Terlebih itu, Warung warung yang berjejer disekitar area makam juga bukan dari sarana desa. Hingga saat ini, belum ada titik terang dari Pemerintah desa maupun dari Pemerintah Pusat.
Wisata Kera merupakan asset terbesar di Desa Ngujang . Warga juga berharap wisata kera ini akan berkembang dengan baik, baik di media cetak hingga media online agar bisa menjadi inovasi yang menarik. Selain itu, Kerja sama antara wisata daerah dan pemerintah serta kelanjutan sarana dan prasarana wisata yang sempat terhanti.
Sementara itu, Pembangunan jembatan yang berada didekat area makam akan dilanjutkan sebagaimana prosedur yang nantinya akan diperluas. Oleh karena itu, keberadaan hunian kera yang berada di makam Ngujang akan berpengaruh terhadap pelonggaran ruas jalan.
Editor : Nurul Hidayah