Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Purwoto, Agen Pertama Koran Jawa Pos Radar Tulungagung Hasil Kerjanya Bisa Buat Bangun Kos-Kos an

Nurul Hidayah • Selasa, 20 Juni 2023 | 20:00 WIB
BERTAHAN: Purwoto (tengah) foto bersama dengan keluarganya yang hingga kini masih menikmati hasil dari agen koran Jawa Pos Radar Tulungagung.
BERTAHAN: Purwoto (tengah) foto bersama dengan keluarganya yang hingga kini masih menikmati hasil dari agen koran Jawa Pos Radar Tulungagung.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Purwoto setiap pagi masih terus semangat menanti tim ekspedisi Jawa Pos Radar Tulungagung, untuk menunggu koran yang akan dijualnya. Pekerjaan ini menjadi saksi hidupnya, hingga akhirnya bisa membangun usaha rumah kos.

Menjadi agen surat kabar sekarang merupakan pekerjaan yang langka di tanah air. Meskipun omzet yang didapat menurun drastis dalam sedekade terakhir, mereka tetap bertahan. Hal tersebut dirasakan Purwoto, agen koran Jawa Pos pertama di Tulungagung, bahkan ada sebelum lahirnya Radar Tulungagung.

Dia menjadi agen Jawa Pos sejak 1997, setahun sebelum itu pernah ditolak di Graha Pena ketika mengajukan pekerjaan tersebut. Namun usai ditolak, Purwoto dihampiri seseorang yang mengaku bagian pemasaran Jawa Pos untuk ditawari menjadi agen koran. Penjualan korannya cukup menguntungkan ketika 1997 hingga 2013.

Tokonya berada di pojok sisi timur simpang empat rumah sakit lama, berwarna hijau dan depannya terdapat papan nama agen Jawa Pos. Papan nama itu terlihat sudah cukup usang, karena sedikit berdebu dan terbuat dari logam.

“Ketika saya masih jaya dengan agen koran, menjual hingga 2 ribu eksemplar di Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek. Bahkan bisa memperkerjakan hingga 25 loper koran yang menjajakan di jalanan Tulungagung,” ungkap Purwoto kemarin.

Saat ini loper koran yang bekerja sama dengan Purwoto tinggal tiga orang. Satu di perempatan BTA, simpang empat RS lama, dan kawasan RSUD dr Iskak. Mereka tiap hari membawa 10 eksemplar koran Jawa Pos yang di dalamnya ada Radar Tulungagung, mempamerkan kepada puluhan ribu pengendara di Tulungagung.

Loper koran biasanya pulang tanpa sisa koran itu ketika akhir pekan dan saat ada berita yang menarik perhatian publik. Namun pada hari biasa, loper koran pulang ke toko Purwoto membawa sisa koran 2 hingga 5 eksemplar. Meskipun begitu, semuanya masih tetap bersyukur dan loper koran masih terus semangat bekerja bersama laki-laki 52 tahun itu.

Masih menurut Purwoto, sekarang pelanggan koran Jawa Pos Radar Tulungagung yang dimilikinya 250 orang saja. Mereka yang masih setia membeli koran terbesar di Jawa ini merupakan pensiunan pegawai negeri dan beberapa juga ada kantor swasta dan negeri. Ada juga sekitar 10 orang yang tiap harinya datang ke toko mencari koran Jawa Pos.

Purwoto masih optimistis dengan Jawa Pos Radar Tulungagung bertahan hingga dalam jangka waktu yang panjang. Dia mempertahankan pelanggannya yang masih setia, meskipun sudah banyak yang berumur. Namun pelanggannya selalu menunggu datangnya koran dan mengeluh bila telat. “Pelanggan saya kebanyakan sudah tua, bila mereka sudah tidak bisa membaca dan meninggal dunia, tiba-tiba minta berhenti. Namun saya selalu berdoa kepada pelanggan selalu sehat dan bisa terus membaca berita,” terangnya.

Menurutnya cukup susah untuk menarik minat anak muda untuk membaca koran, malas membaca, dan kalah dengan ponsel. Dulu Purwoto masih bisa mempromosikan koran Jawa Pos Radar Tulungagung dengan membagikan kalender ketika tahun baru. Terdapat 1000 pelanggan yang menerima kalender hampir setiap tahunnya.

Namun sudah beberapa tahun ini Purwoto tidak memberikan bonus kalender kepada pelanggannya. Lantaran terbatasnya biaya operasional agen, apalagi harus memberikan upah kepada tiga loper korannya yang masih bertahan.

“Saya sendiri ketika menerima koran, selalu membaca berita olahraga, apalagi tentang sepak bola. Saya selalu menunggu berita dari Jawa Pos atau Radar Tulungagung. Selain itu, bila ada berita heboh di Tulungagung, saya lebih suka baca lengkapnya di Radar Tulungagung,” kata Purwoto.

Sekarang, agen surat kabar bukan menjadi pekerjaan utamanya semenjak penurunan omzet pada 2014. Namun dari uang agen koran itu, Purwoto bisa membuat usaha rumah kos yang dihuni oleh pekerja dan mahasiswa yang lokasinya tidak jauh dengan rumahnya. Sejak berdirinya rumah kos 2017 hingga sekarang, rumah kos selalu penuh.

Setidaknya, pekerjaan menjadi agen koran Jawa Pos Radar Tulungagung merupakan sejarah di kehidupannya. Ini merupakan pekerjaan pertamanya sejak bujangan, hingga akhirnya berani melamar anak orang.  Selain itu, hingga kini masih tetap menjadi tambahan pundi-pundi rejeki untuk keberlangsungan rumah tangganya. “Saya berharap koran Jawa Pos Radar Tulungagung bisa tetap eksis, meskipun digempur banyaknya media online. Selain itu, juga terus memperhatikan para agen koran dan pelanggannya,” pungkasnya.(*/rka)

Editor : Nurul Hidayah
#jawapos #purwoto #agen #Pertama #koran