KOTA BLITAR - Menekuni dunia kuliner bukan menjadi hal baru bagi Amalia Rosyida. Warga Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, itu sudah memiliki bekal ilmu tata boga yang dipelajari saat di bangku kuliah. Dia memberanikan diri untuk merintis bisnis kuliner pastry, yakni croissant.
Ya, camilan berupa kue kering ini merupakan jenis kuliner yang berasal dari Prancis. Dia mulai menekuni bisnis tersebut pada 2021 lalu. Tak disangka, usaha kulinernya itu mampu menarik minat kaum milenial alias Gen Z. Hampir setiap hari, Lia bisa menjual 15 hingga 20 croissant. “Beberapa waktu terakhir croissant memang sedang nge-tren. Jadi saya manfaatkan peluang itu,” ungkap perempuan 24 tahun ini.
Menurutnya, dunia kuliner sama seperti fashion. Karena itu, harus selalu up to date supaya bisa mengikuti tren. Sebab, masyarakat saat ini suka memburu sesuatu yang viral. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan konten. “Sekarang apa saja bisa buat konten. Tren itu sangat berpengaruh, terutama dalam bisnis kuliner,” ujarnya.
Sebelumnya, ketika pandemi Covid-19 lalu, dia sempat berjualan salad buah. Menurutnya, orang-orang saat itu membutuhkan asupan gizi yang mencukupi di tengah wabah virus Korona. Salah satunya, dengan mengonsumsi buah-buahan demi meningkatkan imunitas.
Seiring berjalan waktu, Lia berusaha untuk mengembangkan varian menu baru. Croissant menjadi pilihan menu tersebut. Sembari mengasah kemampuan memasak, dia terus mencoba beberapa varian dari croissant. Seperti menambahkan isian telur pada croissant miliknya. “Supaya konsumen tidak bosan. Nanti mau coba varian lain seperti sosis,” katanya.
Perempuan berambut pendek itu mengaku, bahan pembuatan croissant mudah didapat. Seperti selada, tomat, mentimun, telur, saus, dan mayones. Namun, dia membeberkan bahwa proses pembuatan roti croissant memang cukup sulit. Sebab, membutuhkan takaran dan teknik yang benar. “Yang lumayan sulit itu membuat rotinya. Sebab, membutuhkan teknik yang pas untuk menciptakan tekstur yang sesuai,” jelasnya.
Selama menjalani bisnis kuliner, dia mengaku sempat mendapat pandangan miring dari orang-orang. Usut punya usut, Amalia memang lahir dari keluarga yang fokus di bidang pendidikan. Hanya dia yang terjun ke dunia kuliner. “Banyak yang bilang kuliner itu bukan bisnis yang menjanjikan. Tapi, saya tutup telinga dan terus menekuni hobi ini,” akunya.
Croissant buatan Amalia dijual dengan harga Rp 10 ribu untuk varian original. Kemudian, croissant dengan isian telur dihargai Rp 13 ribu. Dari bisnis kuliner tersebut, dia bisa meraup omzet rata-rata Rp 4 juta per bulan. (mg2/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan