KOTA BLITAR - Bambu memiliki beragam fungsi. Tak hanya digunakan sebagai penunjang konstruksi atau pilar bangunan, tetapi juga bisa dibentuk menjadi rupa-rupa kerajinan. Di tangan orang-orang yang terampil dan kreatif, bambu bisa diolah menjadi kerajinan tangan yang fungsional bahkan layak jual. Salah satu bentuk kerajinan dari bambu adalah anyaman.
Diah Yulianti adalah salah satu perajin anyaman bambu di Bumi Penataran. Warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, ini sudah familier dengan anyaman bambu. Di tangan Diah, anyaman bambu tersebut bisa disulap menjadi tompo alias perabot dapur yang biasa digunakan untuk wadah beras, nasi, atau bahan-bahan makanan lainnya.
Sejak belia, dia sudah berteman dengan anyaman tompo. Usaha ini merupakan warisan dari keluarganya.
Tak hanya tompo, ibu dua anak itu juga membuat berbagai kerajinan lain sesuai pesanan konsumen. Seperti tas anyaman, tas suvenir, wadah kenduri, tempat mahar pernikahan, dan lain-lain. “Kadang mereka membawa foto sebagai contoh,” ujarnya.
Bahan utama untuk membuat kerajinan ini adalah bambu. Namun, beberapa kerajinan membutuhkan mur dan baut sebagai pelengkap atau untuk memperkuat kerajinan tesebut.
Cara pembuatan kerajinan bambu ini biasanya diawali dengan pemotongan dan pemilihan bagian kulit bambu. Sebab, bagian tengah bambu cenderung getas atau tidak kuat. Setelah dibelah dan menjadi potongan tipis, bambu tersebut dijemur atau dikeringkan. “Supaya bambu mudah dibentuk dan awet. Karena kalau bambu basah biasanya mudah jamuran,” terangnya.
“Setelah itu, barulah bambu bisa dianyam menjadi berbagai bentuk sesuai dengan pesanan,” imbuhnya.
Dalam sehari, Diah mampu memproduksi hingga 50 tompo. Ketika banyak pesanan, dia dibantu oleh sanak keluarga. “Kalau ada ratusan pesanan, saya ajak saudara untuk membantu,” katanya.
Harga anyaman miliknya bervariasi mulai Rp 5.000 sampai Rp 10.000 tergantung dari ukuran tompo tersebut. Kemudian untuk kerajinan lain dipatok sesuai ukuran dan tingkat kerumitan anyaman. Paling murah Rp 5.000 untuk ukuran yang kecil. Dalam satu bulan, Diah bisa meraup untung hingga puluhan juta. “Kalau musim hajatan bisa sampai Rp 15 juta. Alhamdulillah bisa menikahkan anak dengan usaha ini,” tandasnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan