Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengulik Lengkong, Piranti yang Dipakai Kenduri Massal di Blitar, Ini Maknanya

Doni Setiawan • Selasa, 20 Juni 2023 | 19:19 WIB

 

TRADISI: Lengkong dibuat menggunakan pelepah pisang. Berbentuk persegi dan dirangkai dengan bambu agar kuat menopang makanan di atasnya. 
TRADISI: Lengkong dibuat menggunakan pelepah pisang. Berbentuk persegi dan dirangkai dengan bambu agar kuat menopang makanan di atasnya. 

KOTA BLITAR - Kenduri menjadi salah satu budaya yang kini bergeliat di masyarakat. Dulu, kegiatan tersebut hanya dilakukan bersama beberapa orang terdekat. Namun, aktivitas tersebut kini diikuti oleh banyak orang. Tidak hanya satu lingkungan, tetapi juga sering dilakukan oleh masyarakat satu kampung atau satu desa. Lengkong menjadi salah satu piranti wajib yang dipakai saat kegiatan tesebut.

Benda dari pelepah pisang berisi nasi dan beragam lauk ini konon sebagai simbol kebersamaan. Karena itu, tak jarang dalam kegiatan kenduri massal selalu ada lengkong di antara kerumunan orang tersebut.

Tradisi membawa lengkong telah melekat sejak lama, utamanya di tanah Jawa. Wadah makanan tradisional tersebut berbentuk persegi yang dikaitkan dengan bambu. “Biasanya saya membuat lengkong berukuran 20x20 sentimeter,” ujar salah satu pembuat lengkong, Agoes Tri Soesilo.

Agus -sapaannya- membuat lengkong hanya saat ada pesanan. Sebab, acara kenduri massal bersih desa itu dilakukan setahun sekali. Tak sedikit lengkong yang dibuatnya pada bersih desa tahun ini. “Kurang lebih sekitar 40 lengkong untuk bersih desa kemarin,” akunya.

Pria asal Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan ini menjelaskan, isian lengkong hampir mirip seperti tumpeng, yakni nasi dan lauk pauk lengkap. Di antaranya, nasi, ayam, telur, sambal goreng, dan serundeng. “Sebenarnya kalau isian tergantung selera, tapi yang wajib itu,” papar pria 57 tahun ini.

Tak hanya berisi nasi dan lauk pauk, lengkong buatan Agus disajikan layaknya nasi tumpeng dengan beberapa hiasan cantik. Baginya, hiasan tersebut tidak hanya sebagai penambah isian lengkong, tetapi untuk menambah kecantikan tampilan makanan. Biasanya, kalau makanan disajikan menarik bisa memikat selera penikmat. “Saya menyajikan lengkong dilengkapi dengan garnish untuk mempercantik tampilan,” terangnya.

Agus menyebutkan, lengkong memiliki makna filosofis. Lauk pauk yang disediakan menjadi salah satu hasil bumi yang dimiliki. Selain itu, ukuran lengkong yang cukup besar menjadikan makanan berada dalam satu tempat. Hal itu menunjukkan bahwa ada bentuk kerukunan dan kebersamaan antarsesama. “Menikmati lengkong bersama tentunya dapat menciptakan kebersamaan,” tandasnya. (tan/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#Kenduri #ayam lengkong