KABUPATEN BLITAR - Tradisi bersih desa kini menjadi pemandangan yang jamak ditemukan di Bulan Selo (penanggalan jawa, Red). Namun, bagi masyarakat di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, kegiatan ini sudah menjadi tradisi dan budaya hampir dua abad lamanya.
“Bersih desa ini wujud syukur masyarakat kepada Allah karena sampai saat ini kita bisa beraktivitas, bisa melakukan segala kegiatan. Ini sudah yang ke-189 kami melaksanakan bersih desa,” ujar Kepala Desa Rejowinangun, Bhagas Wigasto, kemarin (18/6).
Rangkaian Bersih Desa Rejowinangun ini dimulai dengan kirab budaya pada 4 Juni lalu. Kegiatan ini diikuti seluruh lembaga desa. Mulai dari tingkat RT/RW, organisasi kepemudaan, hingga tokoh masyarakat. Dalam rangkaian budaya ini, ada prosesi penyerahan panji-panji kelembagaan desa sebagai simbolis untuk melaksanakan tugas pelayanan kepada masyakat.
Selain kirab, juga digelar tahlil pepunden, kesenian jaranan, Khotmil Quran, dan kenduri massal yang diikuti seluruh warga Desa Rejowinangun di balai desa, “Masyarakat membawa lengkong, wadah makanan yang terbuat dari pelepah pisang dengan dikasih bambu, yang merupakan tradisi kita untuk berkomitmen melestarikannya. Jangan sampai hilang atau punah di tengah modernisasi saat ini,” terangnya.
Bagas mengatakan, masyarakat sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. “Kurang lebih 800-900 orang lebih warga Desa Rejowinangun tumplek bleg saat kenduri massal di Balai Desa Rejowinangan. Kita undang seluruh warga secara door-to-door tiap rumah,” katanya.
Selama rangkaian kegiatan ini, Pemerintah Desa Rejowinangun tidak menarik iuran dari masyarakat. Bahkan, juga saat menggelar ruwatan dan pergelaran wayang kulit yang dilaksanakan pada 10 dan 14 Juni lalu. “Alhamdulilah, kami dari pemerintah desa tidak memungut biaya apa pun dari masyarakat desa. Iuran tidak ada. Kita menggunakan semacam kekerabatan, gotong royong dari masyarakat, bersama-sama, bahu-membahu dengan anggaran yang ada di desa. Intinya digunakan untuk kemakmuran masyarakat,” ungkapnya.
Selain wujud syukur, kata Bagas, bersih desa ini juga menjadi sarana untuk nguri-nguri budaya leluhur. Karena itu pula, selain berdoa untuk keselamatan masyarakat, juga kirim doa untuk leluhur Desa Rejowinangun. “Kita menyongsong 2 Abad Desa Rejowinangun pada tahun 2025. Kita awali tahun ini, menyaring projo krono masyarakat yang makmur,” imbuhnya.
Sesuai slogan kita Memayu Hayuning Bawana. Kita merawat bumi beserta isinya. Lalu, Rejowinangun Gemati Gumergah Tani. Gemati pertama, kita berlari kencang untuk inovasi, semangat, dan pantang menyerah. Gemati kedua, saling mengasihi sesama masyarakat desa, kawulo marang prajane, prajane marang kawulo, warga dengan warga,” jelas dia.
Rangkaian kegiatan ini memang dikuti oleh masyarakat Desa Rejowinangun dengan antusias. Mereka berharap ada berkah dan kemudahan bagi masyarakat setelah melaksanakan kegiatan bersih desa tersebut. “Acara iki mek setahun pisan, sangat positif. Nguri-nguri budoyo karo ngelengne lek nek kene enek cikal bakal seng kudu dihormati, dilestarekne, sip. Mugi-mugi Desa Rejowinangun lan perangkat sedoyo nipun lan sedoyo mawon tambah tentrem, gayeng, rukun, sejahtera,” ucap warga RT 03/RW 02 Desa Rejowinangun, Dwi Santoso. (zam/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan