KOTA BLITAR - Nuansa berbeda terlihat saat penyambutan Kirab Pemilu 2024 beberapa hari lalu di Monumen PETA. Ya, adanya penampilan dua tarian berbeda yakni barongan dan barongsai. Aksi mereka pun menarik perhatian penonton karena kolaborasi tarian dari budaya yang berbeda itu perdana ditampilkan.
Sore itu cuaca agak mendung. Suasana di kawasan monumen PETA tidak seperti biasanya. Banyak orang- orang berkumpul menunggu momen yang dinanti. Mereka tidak sabar menunggu rombongan Kirab Pemilu 2024 tiba di tempat bersejarah tersebut.
Sekitar pukul 15.30, rombongan kirab yang ditunggu itu pun tiba. Dengan membawa bendera sejumlah partai politik (parpol), rombongan kirab masuk ke monumen. Dilanjutkan dengan acara inti, yakni deklarasi pemilu damai yang dilakukan oleh forkopimda beserta para perwakilan parpol yang ikut kontestasi pemilu serentak tahun depan.
Di sela-sela acara, sebuah pertunjukan tak biasa itu menarik perhatian orang-orang yang hadir. Tarian barongan dan barongsai tampil bersama di satu panggung. Meski mereka menampilkan tarian dengan ciri khas masing-masing, hasilnya cukup menghibur. “Tujuan intinya memang ingin menunjukkan toleransi antarbudaya. Dengan begitu, terkesan membaur satu sama lain dan bagian dari wujud perdamaian,” ungkap pelatih barongsai Kota Blitar, Daniel, kepada koran ini.
Daniel mengatakan, kolaborasi bermain dengan barongan sangat jarang terjadi. Pernah suatu ketika kolaborasi dilakukan dengan tampil bersama seni tari jaranan. “Tetapi itu sudah cukup lama. Kalau nggak salah sekitar tujuh tahun lalu. Itu pun bukan murni kolaborasi,” terangnya.
Selama ini memang belum ada kolaborasi murni antara penampilan tari barongan dan tari barongsai. Masing-masing pemain tetap membawakan tarian dengan ciri khas tersendiri. “Artinya, belum sampai ada konsep dalam satu cerita tarian. Semua masih main sendiri-sendiri. Persiapan tampil di kirab pemilu kemarin itu pun sangat mepet. H-1 kami baru latihan bersama,” ujarnya.
Karena itu, Daniel dan pelatih barongan tidak sempat untuk membuat konsep yang unik dan menarik. Bisa jadi, ketika waktu persiapan lebih panjang, maka tim bisa membuat konsep tarian yang maksimal. Tak sekadar mengolaborasikan gerakan tarian, tetapi juga latar belakang musik yang mengiri.
Ke depan, Daniel ingin konsep kolaborasi tarian tersebut lebih dimatangkan. Setelah penampilan tari di acara kirab pemilu kemarin, Daniel ingin menyusun suatu konsep tarian kolaborasi antara barongan dan barongsai untuk suatu event di kemudian hari. “Sudah ada di benak pikiran saya konsep cerita tarian seperti apa. Tetapi, ini masih belum begitu detail,” ungkap pengurus Federasi Olahraga Barongsai (FOBI) Kota Blitar ini.
Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Paguyuban Kelompok Jaranan (Pakoja) Kota, Ivan Leksono. Pada event Bale Latar tahun lalu juga sempat ditampilkan tarian barongsai. “Saat itu kami main di event yang sama, tapi belum sampai kolaborasi,” ungkapnya.
Namun, Ivan juga memiliki keinginan bahwa suatu saat bisa berkolaborasi dengan tari barongsai. Dengan tetap tidak meninggalkan ciri khas masing-masing tarian. “Ya, saya punya keinginan tersebut. Namun belum tahun kapan terlaksana. Entah tahun ini atau tahun depan,” tandasnya. (*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan