KOTA BLITAR - Buket bunga kering rupanya masih diminati masyarakat sebagai kado ulang tahun, lamaran, hingga pernikahan. Bisnis kreasi bunga kering ini semakin mendatangkan cuan saat musim nikahan. Seperti yang dirasakan Diansari, warga Kelurahan/Kecamatan Sukorejo.
Huniannya tak jauh dari pusat pemerintahan Kota Blitar. Dari alun-alun, ke selatan menuju Jalan Kenanga, lalu belok kanan menyusuri Jalan Mastrip. Di sekitar perlintasan kereta api, terdapat gang selebar 2 meter yang menjadi jalur alternatif pengguna jalan, dari Jalan Mastrip ke Pasar Legi. Jalur tersebut penuh akan bunga dan tumbuhan segar, memanjakan mata bagi siapa saja yang melintas.
Dari seberang jalan, rumah bergaya lawas itu tampak asri. Tatanan bunga yang rapi dan tumbuhan didominasi warna hijau itu mengundang kesan adem. Di balik pintu, perempuan berkaca mata tampak sibuk dengan meja kecil di hadapannya. Sambil duduk bersila, jemarinya tak lekang memegangi bunga, lalu diletakkan di permukaan kertas. “Ini bunga-bunga kering yang khusus dipakai buat buket. Saking konsentrasi sampai tidak tahu kalau ada orang,” tuturnya, disusul suara kereta api lalu-lalang di belakang rumah.
Perempuan itu adalah Diansari. Lulusan program studi sastra jepang di salah satu kampus di Malang itu tengah menggarap pesanan buket bunga kering. Dia tertarik dengan bisnis tersebut sejak lulus dari bangku kuliah. Namun, baru memulainya 2020 lalu.
Bisnis kerajinan itu ternyata bermula dari rasa bosan imbas pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas karena wabah massal itu membuatnya jenuh. Dia pun putar otak mencari kegiatan yang tetap bisa dilakukan di rumah, tetapi tetap bisa menghasilkan keuntungan.
Dari situlah, usaha kreasi bunga kering dimulai. Seperti pemula pada umumnya, Dian beradaptasi serta mengamati target pasar. “Jadi, saya tidak langsung bikin buket bunga kering, tapi diawali dari usaha hampers, setelah itu bikin buket,” terangnya sembari mengerjakan pesanan buket.
Kerajinan bunga kering sejatinya sudah ada sejak lama. Tetapi, belakangan ini tren kado atau hadiah dalam wujud bunga kering atau dried flower itu kembali eskis. Menurut Dian, hal itu karena bunga tersebut tidak terlalu memerlukan banyak perawatan. Biarpun telah kering, kesan estetik tetap melekat.
Perempuan yang tahun ini genap berusia 25 tahun itu memaparkan, terdapat sejumlah jenis tanaman kering dengan kesan indah saat dirangkai. Di antaranya seperti, edelweis, caspea, bunny tail, serta biji pohon cemara yang telah dikeringkan. Penataan yang tepat, jadi penentu keindahan dan tidaknya buket tersebut. “Balik lagi kepada kreativitas masing-masing. Referensi bisa juga dari internet. Pada dasarnya bunga kering ada nilai estetik, minim perawatan, dan tahan lama” imbuhnya.
Sebelum dirangkai, terlebih dahulu dirinya menanyakan model buket yang dipesan klien. Setelah itu, barulah beberapa item bunga kering dia pilih secara teliti. Kualitas bunga harus sama, supaya pemandangan buket bisa selaras. Nah, jenis bunga yang paling sering diminati yakni edelweis.
Tanaman berjuluk bunga abadi itu banyak diingini pemesan lantaran filosofinya tentang keabadian asmara. Tak jarang pembeli berharap agar kisah cintanya bisa abadi layaknya filosofi bunga edelweis.
Bunga-bunga itu kemudian direkarkan ke kertas menggunakan lem, lalu dikemas sesuai keinginan pemesan. Ada yang dikemas menggunakan figura hingga buket sederhana. “Uniknya biarpun kering, tetapi justru tetap indah. Bunga-bunga ini semua saya beli, untuk kemudian dirangkai kembali,” papar perempuan ramah itu.
Dalam sehari, dia bisa memproduksi sekitar 2-3 buket. Lama waktu pembuatan yakni saat menunggu bunga merekat sempurna. Buket tersebut dibanderol mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung model dan tingkat kesulitan. Dalam kurun waktu tertentu, Dian bisa meraup omzet rata-rata Rp 1,8 juta sampai Rp 5 juta rupiah. “Tantangannya target pasar yang kurang terjangkau luas. Sebab, kita di kota kecil. Sedangkan kalau di kota besar, lebih gampang menjangkau pasar,” tandasnya. (*/sub)
Editor : Doni Setiawan