Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengulik Genre Pop Punk dari Nobodies Perfect, Grup Band Idola Kawula Blitar

Doni Setiawan • Kamis, 22 Juni 2023 | 20:45 WIB
KREATIF: Personel grup band Nobodies Perfect berfoto bersama usai launching single baru.
KREATIF: Personel grup band Nobodies Perfect berfoto bersama usai launching single baru.

KOTA BLITAR - Peminat musik di Bumi Bung Karno cukup ramai. Hal ini menjadi motivasi beberapa anak muda untuk membuat satu grup musik dengan aliran genre pop punk. Berikut hasil wawancara koran ini dengan Nobodies Perfect. Salah satu grup musik yang familier untuk semua kalangan usia.

Alunan musik terdengar lantang dari ruangan kedap suara itu. Irama permainan bas, gitar, dan drum membentuk perpaduan nada yang nyaman didengar. Rupanya, alat musik tersebut dimainkan oleh empat orang personel Nobodies Perfect Band.

Siang itu, suara nyaring vokalis membalut ruangan berukuran 3x6 meter tersebut. Ruangan bernuansa cokelat-oranye tersebut berhasil dikuasai oleh band bergenre pop punk itu. Bahkan, mereka selalu mendatangi tempat tersebut minimal satu minggu sekali.

Konon grup musik ini bernama Full of Fun. Nama tersebut hanya asal nama. Karena sebagai tempat untuk menciptakan kesenangan. Kemudian, pada 2006, nama tersebut berubah menjadi Nobodies Perfect. Nama tersebut mengandung makna sederhana yang relevan. “Mau bagaimanapun juga tetap Tuhan yang Maha Sempurna,” ujar vokalis Nobodies Perfect, Danang Fahmi Hakim.Fahmi dkk memiliki aliran musik pop punk. Menurut mereka, genre musik tersebut digemari oleh berbagai usia.

Selain mengusung genre musik rock yang menggabungkan tekstur dan tempo cepat punk rock, juga menyampurkan melodi dan progresi akord power pop. “Sampai saat ini penggemar genre musik tersebut mayoritas berusia 19-35 tahun,” kata pria asal Kelurahan Rembang, Kecamatan Sananwetan ini.

Photo
Photo

Anggota grup ini mengidolakan genre musik tersebut sejak masih usia belia. Begitu juga dengan Fahmi yang terinspirasi dari beberapa band ternama. Di antaranya, The Starting Line, Rufio, State Champs, dan MXPX.

Kemudian, Fahmi mengumpulkan beberapa teman yang memiliki genre musik yang sama. Hingga pada 2006, dia iseng membentuk grup band baru. “Saat itu saya masih duduk di bangku SMA,” akunya.

Ada tiga teman yang mendampingi perjalanan bermusik ini. Yakni, Dimas Tristan sebagai pemain bas, Naftaly Virgian Cizeta sebagai pemain gitar, Benny Pranama sebagai pemain drum, serta Fahmi sebagai vokalis dan gitar. “Sampai saat ini kami selalu bermain musik tiap minggu,” terangnya.

Pria ramah ini mengaku, genre musik tersebut belum terkenal pada saat itu. Bahkan, belum banyak teman seusianya yang menyukai genre musik pop punk. Dia tak bisa menyebutkan alasan menggemari genre musik tersebut. Sebab, dia senang genre pop punk dari hati. “Emang sudah senang genre musik itu dari hati,” katanya.

Dia mengatakan, genre musik tersebut mendapat respons baik dari masyarakat. Selain itu, nada dalam genre tersebut tidak terikat dengan jenis musik apa pun. “Bisa lebih bebas mengekspresikan dan membuat nada. Karena tidak terikat dengan beat jenis musik lain,” paparnya.

Fahmi memaparkan, grup bandnya tersebut selalu memproduksi single lagu. Biasanya, single tersebut berhasil dibuat dalam waktu 1-3 bulan. Akan tetapi, ada beberapa yang belum rilis. Saat ini ada puluhan single yang sudah berhasil dibuat. Sejumlah 11 single di antaranya sudah rilis, sedangkan puluhan single lain belum. Single yang belum rilis mayoritas menggunakan lirik berbahasa Inggris. Namun, saat ini favorit masyarakat berbahasa Indonesia. “Rencananya akan rilis album pada Juli mendatang,” imbuhnya.

Pria 32 tahun ini mengaku telah memproduksi beberapa single yang sesuai dengan kehidupan seharihari. Yakni, tema romance dan kehidupan sekitar. “Lagu yang related akan lebih mudah diterima masyarakat,” lanjutnya.

Dia menambahkan, tema yang dipilihnya bisa mudah diterima oleh masyarakat. Selain itu juga sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Tentunya lirik lagu akan tertancap di perasaan. “Saya optimistis jika genre musik ini akan diminati banyak orang,” imbuhnya.

Baginya, ada beberapa tantangan yang harus dijalani. Yakni, branding dan kesolidan. Selain itu, mempertahankan kesolidan juga cukup sulit. Apalagi jika berada di kota kecil seperti Blitar. “Prinsip saya, main musik hingga tua nanti,” tuturnya.

Ditanya mengenai produksi lagu, tantangannya adalah saat menentukan nada dan instrumen. Sebab, harus menyesuaikan dengan suasana lagu. “Lirik dan nada lagu harus bisa sesuai,” sebutnya.

suai,” sebutnya. Hingga saat ini, antuasiasme masyarakat dengan genre musik tersebut cukup banyak. Bahkan, perkumpulan genre musik pop punk semakin naik daun. Tak heran, touring di kota lain menjadi kegiatan yang dinanti oleh kalangan musik tersebut. “Tidak hanya senang di atas panggung, tapi juga menikmati euforia saat berkumpul,” jelasnya.

Bagi Fahmi, musik tidak dapat digantikan dengan apa pun. Prinsipnya, harus tetap berkarya. Karena hasil karya menunjukkan diri kami. “Musik itu tidak bisa diungkapkan. Hanya bisa dirasakan,” tandasnya. (*/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#Nobodies Perfect #grup musik #grup band #Pop Punk