Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Candra Bayu Setyawan, Peternak Ular Asal Blitar

Doni Setiawan • Jumat, 23 Juni 2023 | 22:31 WIB
BERANI: Anggota komunitas pecinta reptil menunjukkan ular piton saat pameran di Bazar Blitar Djadoel, Rabu (21/6) lalu.
BERANI: Anggota komunitas pecinta reptil menunjukkan ular piton saat pameran di Bazar Blitar Djadoel, Rabu (21/6) lalu.

KOTA BLITAR - Candra Bayu Setyawan menjadi peternak sukses hewan reptil, terutama ular. Dia kini bisa meraup cuan ratusan juta. Namun, di balik semua itu, dia pernah memiliki pengalaman pahit dililit ular hingga sempat ada penolakan dari keluarga.

Suasana Bazar Blitar Djadoel di hari terakhir pelaksanaannya terlihat ramai. Ketika melintas, terlihat satu stan bazar yang menarik. Berbeda dengan stan lain yang rata-rata diisi makanan atau aksesori. Di sana penuh dengan berbagai jenis hewan peliharaan, terutama hewan reptil. Stan tersebut milik komunitas hewan di Kota Blitar.

Beberapa orang terlihat sibuk mengurus berbagai hewan, mulai dari kucing, burung, kura-kura, ular, dan lainnya. Di sudut stan, terlihat pria gempal sedang membersihkan kandang ular. Namanya Chandra Bayu Setyawan.

Warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, ini tak hanya memeriahkan acara Bazar Blitar Djadoel, tetapi juga memiliki kios di rumahnya.

Dia sudah memiliki hobi memelihara hewan melata itu sejak 2012. Dia tidak menyangka hobinya sekarang ini bisa menghasilkan cuan hingga ratusan juta.

Dia mengaku bahwa selama menekuni hobi tersebut pernah digigit dan dililit ular hingga hampir pingsan. Itu terjadi ketika dirinya memberi makan ular sepanjang tiga meter tersebut. “Sampai hampir pingsan waktu dililit di leher. Jadi, kalau merawat ular berukuran besar harus ada temannya. Untuk meminimalisasi hal-hal tidak diinginkan,” tandasnya.

Hobi memelihara ular pun, lanjut dia, awalnya keluarga sempat menentang. Karena dalam pandangan orang awam, reptil pastilah berbahaya. Seiring berjalannya waktu, keluarga memberikan support penuh. “Ya pasti nggak setuju. Bahaya lah, repot ngurusnya, alasan-alasan seperti itu,” katanya.

Dari berbagai rintangan dan pengalaman yang dirasakan, dia lama-lama tahu enaknya cari duit lewat pelihara hewan ini. “Malah keterusan sampai sekarang,” ungkap pria 31 tahun ini.

Dia awalnya hanya memelihara piton biasa, retic, dan gecko. Namun sekarang bisa ternak ular sendiri. Tak hanya itu, koleksi hewan reptil miliknya bertambah. Yaitu, corn snake, phyton albino, ball phyton, gecko, sugar glider, musang, dan ferret. Harga jual ular kisaran bayi baru menetas dipatok Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta. “Alhamdulillah pernah dapat Rp 100 sampai Rp 150 juta dalam setahun,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain ternak sendiri, dia juga mendapat koleksi hewan-hewan tersebut dari komunitas pencinta hewan. Ditambah dari forum-forum jual beli di media sosial.

Selama ini, untuk penggemar reptil sendiri, menurut dia, lebih banyak peminat dari luar Jawa. Seperti Kalimantan dan Sumatera. “Dari Blitar malah jarang. Kalau luar kota ada dari Kediri dan Malang,” ujarnya.

Kemudian untuk perawatan, Chandra bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 2 juta setiap bulan. Ular cukup diberi makan ayam utuh dan tikus putih. Dia bisa ternak tikus putih sendiri sehingga bisa mengurangi biaya pakan. “Perawatannya mudah banget. Kalau ular cukup dikasih makan seminggu sekali. Rajin dibersihkan kandangnya. Nggak usah dimandiin atau dijemur,” terangnya. (*/c1/din)

 

Editor : Doni Setiawan
#Bazar Blitar Djadoel #Peternak Ular #ular