Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pedagang Blitar Boyongan ke Pasar Desa, Ini Alasannya

Doni Setiawan • Senin, 26 Juni 2023 | 22:40 WIB
Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

KOTA BLITAR - Dua tahun pascapandemi Covid-19, sektor perdagangan tampaknya belum pulih seutuhnya. Indikasinya, kios- kios pasar masih banyak yang tutup. Bahkan, tak sedikit pedagang yang kini adu keberuntungan dengan pindah jualan di pasar desa. Tak pelak, kondisi tersebut berimbas pada pendapatan daerah, utamanya dari pos retribusi pasar.

Kepala Bidang (Kabid) Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Sri Supartiningsih mengatakan, target retribusi pasar tahun ini sekitar Rp 5 miliar (M). Sayangnya, untuk persoalan retribusi ini, Supartiningsih sedikit irit bicara. Dia hanya mengatakan bahwa hingga pertengahan Juni belum ada separo pendapatan yang bisa dikumpulkan.

Besaran target retribusi tiap pasar daerah berbeda. Itu disesuaikan dengan kondisi dan luas pasar. “Jumlah pedagang sangat berpengaruh pada capaian target. Apalagi, sekarang memang banyak kios yang ditinggalkan pemiliknya,” ujar Supartiningsih ketika ditemui di ruangannya kemarin (23/6).

Terdapat 13 pasar daerah yang selama ini mengisi pundi pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Blitar. Yakni, Pasar Kesamben, Pasar Wlingi, Pasar Talun, Pasar Garum, Pasar Kanigoro, Pasar Lodaya, Pasar Kademangan, Pasar Srengat, Pasar Sidorejo, Pasar Nglegok, Pasar Doko, Pasar Gandusari, dan Pasar Binangun (Ngembul).

Supartiningsih memaklumi capaian saat ini masih jauh dari target. Menurutnya, pasar menjadi sepi semenjak pandemi Covid-19. Tak hanya itu, banyak pedagang yang meninggalkan kiosnya dan pindah berjualan ke pasar desa. “Seperti di Pasar Doko. Banyak pedagang yang pindah ke Pasar Penataran,” ungkapnya.

Kondisi itu menyebabkan Pasar Doko menjadi penyumpang PAD paling sedikit di Kabupaten Blitar. Tak hanya itu, jam operasional Pasar Doko juga terbatas dan tidak dibuka setiap hari. “Memang ada pasar tradisional yang sifatnya pasaran. Jadi tidak buka setiap hari,” katanya.

Pasar Wlingi bisa dikatakan sebagai penyumbang PAD terbesar dari pos retribusi pasar. Selain pasar pagi, beberapa kios di pasar ini buka hingga sore hari. Menurut dia, kondisi pasar akan sepi jika tidak ada pasar pagi. Alias pedagang sayur dan lauk pauk.

Berdasar data tahun lalu, target retribusi pasar sebesar Rp 3 M. Namun, Supartiningsih mengaku target tersebut tidak tercapai. Alasannya karena Pasar Kesamben yang sempat terbakar. Kondisi itu menyebabkan aktivitas jual beli dihentikan selama beberapa waktu. “Sebenarnya hampir tercapai. Tapi terkendala musibah itu,” katanya.

Untuk tahun ini, perempuan berhijab itu optimistis kondisi perekonomian mulai normal kembali. Indikasinya, beberapa masyarakat mulai kembali aktif untuk melakukan aktivitas jual beli di pasar. “Kendalanya, ada beberapa pedagang yang pindah lokasi berjualan ke tempat lain. Misalnya pindah ke pasar desa,” tandasnya. (mg2/c1/hai)

 

Editor : Doni Setiawan
#retribusi #pendapatan asli daerah (PAD) #pedagang pasar #kios pasar #Pasar Desa