KABUPATEN BLITAR - Budi daya lebah klanceng tak semudah mengedipkan mata. Itu dirasakan Dedi Irawan, warga Desa Soso, Kecamatan Gandusari. Butuh kejelian dalam aspek habitat. Sebab, lingkungan dan cuaca memengaruhi kualitas madu.
Di lahan persawahan yang tak terlalu luas itu, pria berpostur semampai tersebut begitu jeli mengamati sebuah wadah berbentuk persegi. Rupanya, wadah tersebut terhubung langsung dengan kayu, rumah utama koloni lebah klanceng. Sesekali tangannya membuka kertas tipis penutup persegi untuk mengecek keterisian madu-madu.
Koloni lebah klanceng yang mengerumuni potongan kayu itu tampak akrab dengan tangan tersebut. Serangga sebesar biji kacang hijau itu masih lalu lalang mengusung nektar dari tumbuhan di sekitar sarangnya. Itulah komposisi utama yang nantinya diolah secara alami menjadi madu. Selain cita rasa yang khas, madu lebah klanceng dipercaya bermanfaat untuk kesehatan.
“Itu ada kantong yang berisi propolis. Tapi kebanyakan madu. Sarang ini baru beberapa hari saya panen,” ucap Dedi Irawan yang tak lain pembudi daya lebah klanceng tersebut.
Usaha sampingan itu ditekuninya sejak 2017 lalu. Itu pun tidak disengaja. Dedi semula hanya merawat dua koloni lebah yang dia letakkan di area rumahnya. Madu yang dihasilkan juga untuk konsumsi pribadi. Sesekali memang dia berikan kepada tetangga atau kolega yang penasaran dengan rasa cairan berwarna cokelat itu.
Pria berusia 27 tahun itu masih ingat, madu murni miliknya pernah dibeli oleh rekannya sebagai treatment berobat sakit lambung. Dia lantas mencari khasiat madu klanceng liar melalui berbagai sumber kesehatan. Menurutnya, madu tersebut bisa memperbaiki imunitas tubuh lebih baik.
“Saya niat, bismillah. Awalnya hanya beberapa sarang saja, sampai sekarang ada sekira lebih dari 30 sarang atau koloni lebah,” tuturnya.
Serangga pemilik nama ilmiah Trigona spinises itu tidak datang dengan sendirinya. Dedi mengaku, beberapa sarang lebah dia beli dari tetangga. Pohon yang jadi persembunyian lebah semula ditebang, lalu dipotong pada bagian sarangnya saja. Setelah itu, batang kayu diletakkan dalam posisi berdiri. Pada bagian atas, Dedi memasang boks persegi sebagai wadah produksi madu.
“Ada semacam pintu keluar-masuk di bawah kayu. Kayu itu memang dalamnya berongga. Saat klanceng bawa nektar masuk dari bawah, langsung menuju boks tersebut,” jelasnya sambil sedikit membuka wadah.
Konon, lebah-lebah itu merupakan koloni yang terpecah dati hutan lindung di kawasan lereng Gunung Kelud. Koloni klanceng lalu menyebar di permukiman warga dan beberapa pohon. Menurut Dedi, koloni yang terlalu banyak pada satu batang kayu bisa dipecah untuk dibentuk koloni penghasil madu yang baru.
Nah, untuk sarang yang baru terbentuk, tidak langsung menghasilkan sari-sari madu. Sebab, klanceng memerlukan banyak waktu untuk membangun tempat tinggal. Dedi menilai, butuh penantian sekira 3 bulan agar kantong-katong terbentuk dan terisi madu.
“Ada juga istilah koloni super. Itu menunggunya cukup lama. Tetapi memang madunya pun sangat berkualitas,” paparnya.
Jawa Pos Radar Blitar pun berkesempatan mencicipi madu murni klanceng liar langsung dari katongnya. Hanya kantong dengan kapasitas madu penuh yang bisa dicoba. Rasanya dominan manis dengan sedikit masam. Rasanya masam khas madu tersebut akan bertambah kuat saat madu dibiarkan cukup lama pada kemasan.
“Lama-lama rasanya berubah jadi asam. Yang saya tahu dari beberapa referensi kesehatan, tidak mengubah kualitas dan khasiatnya,” tuturnya.
Menurut Dedi, kualitas madu ditentukan pula pada habitat klanceng. Bapak satu anak itu menyebut sengaja meletakkan sejumlah sarang lebah di lahan dengan vegetasi mumpuni. Seperti di area lahan yang dikelilingi tumbuhan berbunga. Hal itu akan membantu kuantitas dan kualitas produksi madu.
Saat cuaca cerah, madu bisa dipanen dalam rentang waktu dua bulan. Satu koloni biasanya menghasilkan madu sebanyak 700-800 mili liter (ml). dari total sekitar 30-an sarang yang dia kelola, secara keseluruhan bisa terkumpul sebanyak 7 liter madu murni liar. Setelah dipanen, madu didiamkan terlebih dahulu semalaman, lalu disaring dan dikemas dalam botol. Dalam kemasan 250 ml, madu dibanderol Rp 150 ribu. Harganya pun bervariasi sesuai ukuran kemasan.
“Susahnya kalau pas hujan. Banyak bunga yang tidak mekar, akhirnya lebah sulit produksi karena nektar sedikit,” tandasnya. (*/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan