KOTA BLITAR - Tidak hanya pedagang, jasa perawatan sapi juga kebanjiran berkah jelang Idul Adha. Bermodal alat sederhana, paling apes saat sapi buang kotoran tiba-tiba.
Riuh suara lenguh sapi saling bersahutan di Pasar Dimoro, Kecamatan Kepanjenkidul, Sabtu siang (24/6). Itu beriringingan dengan suara lantang para pedagang yang menawarkan dagangan mereka untuk kurban.
Di pasar hewan yang cukup lu as ini, ratusan lonjor bambu ter pasang kokoh dengan arah ver tikal dan horizontal. Tatanan bambu berbentuk seperti pagar itu menjadi tambatan bagi hewan berkaki empat tersebut.
Rupanya di pojok belakang sisi selatan pasar ada beberapa hewan yang diletakkan dengan posisi berbeda dan mengundang penasaran. Seluruh badan hewan dipaksa melekat dengan tiang bambu. Secara tak langsung, keadaan itu mengalihkan perhatian koran ini. Jalan tak rata dan becek membawa kami ke sudut belakang pasar. Lokasi ini ternyata menjadi sarana perawatan sapi. Kalangan pedagang di pasar ini familier dengan sebutan salon sapi.
“Mau cari siapa?” celetuk perempuan berkaus putih, sembari memanggil penyedia jasa salon sapi, Nurrohman. Nurrohman adalah sang ahli salon sapi di sana.
Tak lama kemudian, Nurrohman datang menghampiri. “Ada yang bisa dibantu?” katanya sambil membersihkan tangannya dengan sapu tangan.
Pria asal Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, ini mengaku telah bergelut di salon sapi sejak tahun 90-an. Kurang lebih sudah sekitar 30 tahun. Awalnya, dia hanya ikut kakaknya berkeliling di pasar hewan tiap hari. Tak lama, dia tertarik untuk belajar profesi yang cukup ekstrem ini. “Saya tertarik karena ke pasar aja bisa dapat uang,” akunya sambil tertawa.
Pria 55 tahun ini menjelajah di Blitar, Tulungagung, dan Kediri tiap hari sesuai pasaran. Untuk di Kota Blitar, dia datang tiap pasaran Pon dan Legi, sedangkan untuk pasaran di Tulungagung adalah Pahing dan Wage. “Kalau di Kediri sebenarnya banyak, tapi seringnya di Pasar Kliwon,” terangnya.
Pada pelayanan jasa ini, Nurrohman tidak melakukan sendiri. Dia ditemani oleh anak dan keponakannya. Jika di luar kota, Blitar dan Kediri, dia bersama keponakannya. Kemudian untuk di Tulungagung, dia berangkat bersama anaknya. “Sedikit sambil belajar jasa salon agar tetap ada dan bisa dikenal banyak orang,” aku pria paro baya ini.
Nurrohman menunjukkan beberapa senjata yang digunakan untuk perawatan ruminansia itu. Di antaranya, gergaji, gerinda, sabit, tatah, dan palu. Tatah dan palu digunakan untuk memotong kuku sapi, sedangkan sabit digunakan untuk memotong kuku bagian bawah. “Kalau potong tanduk pakai gergaji dan gerinda, karena sangat keras,” paparnya sambil menyiapkan tatakan untuk memotong kuku.
Sebelum memulai, sapi ditali depan dan belakang. Posisi sapi melintang di tiang tali. Tujuannya untuk meminimalisasi gerak sapi sehingga lebih mudah dalam melakukan perawatan kuku sapi. “Terkadang kakinya juga masih keluar tatakan,” jelas pria berkacamata ini.
Lanjut dia, posisi berbeda dilakukan untuk perawatan tanduk sapi. Yakni dengan menali kepala sapi menghadap tiang penyangga. Tekstur kuat dan tebal pada tanduk menyebabkan perawatan lebih sulit. Perawatan tanduk hanya berlaku untuk sapi betina. “Kalau sapi jantan tanduknya sudah pendek,” kata pria empat anak ini.
Dia menyebutkan, membuka jasa salon sapi butuh ketelitian dan kesabaran. Butuh waktu untuk lihai dan mampu berhadapan dengan hewan yang bisa berontak secara tiba-tiba. Pada awal belajar, dia kerap salah memotong kuku hewan. Akibatnya, kakinya mengeluarkan sedikit darah. Selain itu juga harus sabar saat menghadapi hewan. Jangan sampai emosi tertumpah pada hewan yang ditangani. “Meskipun sebagai salon sapi, kita harus profesional menjaga amarah,” ucap pria ramah ini.
Perawatan sapi hanya membutuhkan waktu yang cukup singkat. Perawatan kuku hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, sedangkan untuk tanduk membutuhkan waktu yang lebih lama. Yakni, sekitar 20 menit. “Karena tanduk lebih sulit daripada kuku,” jelasnya.
Menurutnya, perawatan pada sapi itu penting. Sebab, selain membuat penampilan menarik, sapi juga akan lebih sehat. Tak hanya itu, bahkan sapi terlihat lebih muda dan kuat. “Biasanya kalau sapi terlihat menarik, harga jualnya meningkat hingga Rp 500 ribu,” paparnya.
Pengalamannya yang sudah bisa dikatakan cukup lama, menciptakan berbagai kisah tak mengenakkan. Tak jarang dia terkena alat tajamnya sendiri. Biasanya, akibat sapi mengamuk atau sapi yang tiba-tiba menghindar saat alat sedang dipukul. Bahkan, dia juga sering tersepak oleh kaki sapi. “Itu jadi tantangan bagi kami, karena hewan tidak bisa nurut dengan manusia,” imbuhnya.
Tak hanya itu, dia juga sering menghadapi sapi yang buang kotoran secara tiba-tiba. Dia mengaku hal menjijikkan itu adalah hal yang biasa. Tak ada rasa kesal saat mendapati hal itu di dekat dirinya. Meskipun begitu, sebisa mungkin menghindari terlebih dahulu, kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi. “Rasa jijik itu tidak ada, kalau pulang mandi ganti pakaian sudah bersih,” ungkapnya.
Nurrohman mengaku enjoy dengan pekerjaan tersebut. Baginya, setiap pekerjaan pasti akan memiliki kesulitan dan kendala masing-masing. Bersyukur menjadi kunci utama untuk menjalani kehidupan. Baginya, rezeki yang didapatkan sudah ditakar adil oleh Sang Pencipta. “Syukuri saja apa yang kita jalani, nikmat bisa didapatkan dalam bentuk apa pun,” tandasnya. (*/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan