Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menengok Rumah Singgah Muizza, Panti Bagi Kucing Terlantar di Blitar

Agus Muhaimin • Jumat, 30 Juni 2023 | 22:45 WIB
TELATEN: Nur Imam Jazuli sedang memberi makan kucing-kucing terlantar di rumah singgah milik Bunda Muizza, kemarin (27/6).
TELATEN: Nur Imam Jazuli sedang memberi makan kucing-kucing terlantar di rumah singgah milik Bunda Muizza, kemarin (27/6).

KABUPATEN BLITAR - Aksi sosial tak hanya berlaku bagi sesama manusia. Seperti dilakukan oleh Bunda Muizza, warga Desa Kauman, Kecamatan Srengat. Sejak 2018, dia mendirikan rumah singgah untuk kucing-kucing terlantar. Jutaan rupiah dikeluarkan dari kantong pribadinya tiap bulan.


Puluhan kandang kucing tersusun rapi di ruangan berukuran 2x5 meter itu. Sekitar 200 ekor kucing dipisah di tiga ruangan yang berdekatan. Mereka sudah menjadi penghuni tetap di rumah singgah ini sejak lima tahun lalu. Kemarin (27/6), ratusan kucing itu kompak mengeong ketika koran ini datang dan mendekati wilayah mereka.

Ya, hunian di Desa Kauman, Kecamatan Srengat, ini memang sedikit unik. Sebab, ratusan kucing menjadi penguasa tempat tersebut. Bukan karena tidak ada pemiliknya, sebaliknya, sang pemilik yakni Muizza sengaja mendedikasikan sebagian rumahnya untuk memelihara kucing terlantar.

Saat ini, yang bersangkutan tidak berada di tempat lantaran menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hongkong. Meski begitu, dia tetap menjalankan aksi sosial tersebut dengan dibantu keluarganya di rumah. Melalui sambungan telepon, perempuan ramah itu mengungkapkan awal mula menyedikan fasilitas bagi kucing terlantar. Itu terjadi sekitar 2018 lalu. Kala itu, dia mengetahui ada kucing terlantar dengan kondisi mengenaskan melalui media sosial.

Kondisinya sangat memprihatinkan. Penuh luka, jelek, dan kecil dengan bobot hanya 600 ons. Paling parah dengan kondisi kaki yang diduga sengaja dipotong oleh orang tak bertanggung jawab. Merasa iba, akhirnya dia memutuskan untuk merawat dan membawanya ke dokter hewan. Meski sempat diamputasi dan dinyatakan sembuh, sayangnya kucing tersebut mati beberapa tahun kemudian karena keracunan.

Karena kecintaannya pada hewan berbulu itu, perempuan 58 tahun ini mendirikan rumah singgah bagi kucing-kucing liar yang terlantar. Bahkan, kucing pertamanya dibuatkan kuburan di sebelah rumahnya. “Ya sejak itu saya punya keinginan untuk mendirikan rumah singgah ini,” ungkapnya.

Tak hanya dari komunitas kucing, dia juga membawa pulang kucing terlantar di jalanan. Informasi itu biasanya dia dapatkan dari dokter-dokter hewan yang membantu memberikan pengobatan. Paling banyak di bawa dari luar daerah. Seperti Kediri, Tulungagung, Malang, Jombang, dan Jogjakarta. “Ada yang dari Riau, tapi tidak saya bawa pulang. Untuk biaya perawatan tetap saya yang handle. Kalau masih bisa dijangkau, dikirim melalui kurir khusus,” ujarnya.

Untuk biaya perawatan, Bunda Muizza –saapaannya- mengaku tidak membuka donasi dalam bentuk uang cash. Sebab, ada pengalaman tak mengenakkan karena hal tersebut. Sebaliknya, dia memberikan kesempatan jika ada yang ingin membantu berupa pakan maupun keperluan kucing lain. “Sering ada bakti sosial dari klinik hewan. Seperti kemarin dari Kediri. Untuk bulan ini rencananya dari Blitar,” paparnya.

Dia mengaku dalam satu bulan bisa menghabiskan minimal Rp 5 juta rupiah untuk biaya perawatan. Seperti pemberian vaksin dan vitamin. Namun, nominal tersebut bisa bertambah karena masalah kesehatan kucing cukup beragam. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sama. “Ya kalau ada yang sakit parah bisa sampai Rp 10 juta,” katanya.

Kucing yang dibawa pulang ke rumah singgah bukan kucing rumahan, melainkan kucing yang terlantar dan sakit. Hampir semua kucing di sana memiliki kondisi yang sama. Ada yang buta, pincang, penyakitan, bahkan tidak memiliki telinga. “Ini  kemarin ada yang sakit hipotermia, baru saja meninggal,” papar Nur Imam Jazuli, salah satu relawan yang membantu Bunda Muizza untuk merawat ratusan kucing.

Imam -sapaannya- sudah lama membantu Bunda Muizza dan kelurga untuk merawat kucing-kucing tersebut. Menurutnya, musim hujan menjadi kendala dalam merawat kucing. Sebab, cuaca hujan membuat lingkungan menjadi lembap dan kucing rentan terkena penyakit. “Kan kebanyakan memang kucing sakit, jadi lebih sensitif kalau musim hujan,” jelasnya.

Tidak hanya memberikan perawatan kepada kucing-kucing terlantar. Rumah singgah juga memberikan kesempatan untuk adopsi bagi para pencinta kucing. Dia memaparkan, yang paling banyak justru dari luar daerah seperti Nganjuk, Tulungagung, Kediri, dan lainnya. “Bulan ini saja ada 20 kucing baru yang datang. Kalau adopsi masih 2,” paparnya.

Dari cerita Bunda Muizza, lanjut dia, yang paling banyak menghabiskan biaya adalah kucing pertama yang diberi nama Muizza itu. Karena kondisinya yang paling parah dari kucing-kucing lain. “Katanya biaya perawatan Muizza bisa untuk beli satu motor,” tandasnya. (*/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#kucing #aksi sosial #rumah singgah #kucing terlantar