KABUPATEN BLITAR – Tetap waspada harus dilakukan umat muslim di Bumi Penataran selama momen Idul Adha. Kendati sejumlah penyakit pada hewan sudah cukup terkendali, bukan berarti tak ada potensi yang merugikan kesehatan.
Seperti diketahui, sebagian umat muslim sudah merayakan hari raya kurban kemarin (28/6). Meski belum ada jumlah pasti, setidaknya ditemukan sejumlah hewan kurban yang terpapar cacing hati pada organ dalamnya. “Kalau data lengkapnya masih dalam proses rekap. Tapi gambaran kasar sementara, sudah ada lebih dari 10 hewan kurban yang tepapar cacing hati,” ujar Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Nanang Miftahudin.
Dia menegaskan, liver sapi dengan cacing hati tidak layak konsumsi alias harus diafkir atau dibuang. Sebab, cacing hati ini tidak mati meski dipanasakan dalam suhu tinggi. “Paling aman ya dibuang, sebab bahaya kalau sampai masuk tubuh manusia,”ucapnya.
Nanang mengatakan, selain cacing hati masih ada beberapa potensi lain yang dapat merugikan masyarakat. Misalnya, penyebaran penyakit. Untuk itu, pihaknya menyarankan agar proses pembersihan daging kurban tidak dilakukan dengan memanfaatkan aliran sungai. “Biasanya pembersihan daging atau organ hewan kurban itu dilakukan di sungai. Untuk saat ini sebaiknya jangan,” tegas dia.
Pihaknya berharap panitia menyedikan sarana khusus untuk pembersihan hewan kurban. Dengan begitu, potensi penyebaran virus dan penyakit pada hewan bisa dikendalikan. “Jangan dibawa ke sungai. Buat sarana untuk mengubur limbah itu,” katanya.
Dia mengungkapkan, air sungai kadang terlihat bersih. Namun, tidak ada jaminan air tersebut bebas dari bakteri dan kuman. Akibatnya, daging yang dicuci jelas akan terpapar bakteri dan kuman sehingga tidak lagi sehat. “Selain itu, air ini bisa menjadi piranti untuk penularan penyakit. Misalnya, penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit lainnya,” jelas Nanang.
Ya, saat ini banyak terjadi kasus penyakit lumpy skin disease (LSD) pada sapi dan kerbau. Penyakit akibat virus tersebut juga menular. Jika gejala penyakit tersebut masih ringan, maka tidak akan berpengaruh pada kerusakan daging, sedangkan jika gejala berat dapat berpengaruh pada kulit dan permukaan daging. “Penyakit ini dicirikan dengan adanya benjolan padat di seluruh bagian tubuh hewan,” terangnya. (hai/c1)
Editor : Doni Setiawan