KABUPATEN BLITAR - Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten dikenal sebagai wilayah yang subur. Hal itu lantaran desa ini diapit dua sarana irigasi yang mumpuni. Yakni Sungai Brantas dan Sungai Lodoagung. Di balik itu, desa yang saat ini dipimpin oleh Bhagas Wigasto tersebut, juga memiliki sejarah yang cukup panjang. Setidaknya, pemukiman di daerah tersebut sudah ada sejak 1719 Masehi.
“Yang babat alas desa ini dulu adalah para pengikut Pangeran Prabu, yang dihukum oleh Sultan Paku Buwono I,”ujar tokoh sejarah Desa Rejowinangun, Mustoat Al Ade.
Dia menuturkan, Desa Rejowinangun tersebut dulunya disebut dengan istilah Njinangun. Namun suatu ketika, para pengikut Pangeran Prabu yang menetap di wilayah, ini menerima wangsit melalui mimpi. Dalam mimpi itu, dia diminta untuk menambahkan kata Rejo sebagai sebutan wilayah itu.
Rejo merupakan bahasa Jawa yang berarti ramai. Dalam mimpi tersebut dimunculkan gambaran, bahwa wilayah ini akan menjadi pemukiman yang ramai. Hal itu lantas dikonsultasikan dengan para pengikut lainnya. Melalui musyawarah, akhirnya disepakai ditambahkan kata ‘Rejo’, sehingga munculah istilah Rejowinangun yang kini menjadi sebutan untuk desa. “Njinangun itu berarti terus membangun. Jadi kalau digabungkan berarti desa yang maju karena terus melakukan pembangunan,” katanya.
Desa ini juga memiliki beberapa tempat yang dianggap sakral, karena memiliki sejarah dengan pendirian Desa Rejowinangun. Yakni, situs sejarah Mbah Gelo, petilasan makam Mbah Hiro Drono Ponco Drono, dan Petilasan Raden Supangat. Sampai sekarang warga Desa Rejowinangun masih diuri-uri, setiap tahun setiap bersih desa warga menggelar kenduri, tahlilan, khataman Quran untuk mendoakan para leluhur.
Jadi, kata pria yang sering disapa Pak Bogang ini, Rejowinangun ini masih memiliki trah Mataram. Tak heran adat istiadat masih kental seperti zaman Mataraman. “Ada istiadat leluhur masih dijunjung tinggi oleh masyarakat sini. Setiap ada hajatan selalu diiringin dengan kirim doa kepada leluhur,”ujarnya.
Dia menerangkan, dengan diadakannya bersih desa setiap tahun, bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga wargnya, serta bersedakah bumi sebagai wujud rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah kemakmuran selama ini. “Antusias masyarakat sangat besar sekali dalam acara kenduri tahun ini. Terlihat mereka datang saat acara kenduri desa.”ungkpanya. (adv/zam/hai)
Editor : Doni Setiawan