Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Trauma Jadi Ide Nonin Elyane Putri Ciptakan Tari Tompel, Ini Kisahnya

Agus Muhaimin • Senin, 3 Juli 2023 | 21:22 WIB
TEGAR: Nonin Elyane Putri bangga pernah tampilkan karya sendiri di event bergengsi.
TEGAR: Nonin Elyane Putri bangga pernah tampilkan karya sendiri di event bergengsi.

KOTA BLITAR - Bagi Nonin Elyane Putri, menari tidak hanya bermain seni gerak tubuh. Namun, dia menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana untuk meluapkan emosi. Uniknya, dia juga menciptakan sebuah karya tari untuk mengurangi rasa trauma pada dirinya. Dia menyebutnya dengan Tari Tompel.

Karya seni ini tidak lepas dari pengalaman masa kecil yang dialami Nonin. Yakni sering dibully. Rupanya, hal tersebut menciptakan rasa trauma yang cukup besar dan membekas di hatinya. Bahkan, kadang hal itu membuatnya tak percaya diri.

Perempuan asal Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan ini tak tinggal diam. Dia berusaha bangkit dari rasa trauma yang menjajah jiwanya. Pergulatan emosi beradu dalam pikirannya untuk mencari obat dari traumanya itu. Mulai dari memperbaiki penampilan hingga meningkatkan kemampuan.

Nonin mengaku, pada 2019 dia mulai merancang cara baru. Ya, dia menciptakan sebuah karya tari yang menceritakan dirinya. Tompel di sekitar matanya menjadi bahan olokan teman-temannya, menjadi ide untuk karya tari buatannya. “Tari ini bertujuan agar saya tetap bisa berekspresi tanpa ada yang mengolok,” terang perempuan 25 tahun ini.

Nonin menyebutkan, ada lima orang dalam tarinya tersebut. Mereka adalah teman sejawat semasa duduk di bangku kuliah. Tak lain, mereka turut membantu membuat koreo dalam karya tari perdananya itu. “Kira-kira butuh waktu dua bulan untuk bikin karya tari ini,” paparnya.

Dia menjelaskan, karya tari tersebut berjenis kontemporer. Artinya, gabungan antara tari tradisional dan modern. Menurutnya, tari jenis kontemporer lebih cocok dengan karakternya. Selain itu, karya tari kontemporer bisa lebih banyak diminati, utamanya oleh anak jaman sekarang. “Sebenarnya semua tarian itu indah, tergantung bagaimana perspektif kita aja,” tuturnya.

Baginya, mengolah rasa menjadi salah satu kesulitan. Sebab, kisah dari tari tersebut harus bisa dirasakan oleh penari lainnya. Tujuannya agar pesan dari tarian tersebut bisa tersampaikan dan dapat dirasakan pula oleh penonton. “Untuk mencapai goals dari seni tari ini yang sangat sulit, karena kita main di rasa,” katanya dengan ramah.

Selain itu, penyesuaian gerak juga cukup sulit. Sebab, teman tarinya tidak bergenre kontemporer. Bahkan, kebanyakan dari mereka lebih luwes pada tari tradisional. “Takut kalau gerakan dari alur A ke alur B tidak nyambung,” ungkapnya.

Nonin menambahkan, banyak pengalaman tentang tari yang pernah dijajakinya. Salah satunya bisa tampil pada acara Internasional Mask Festival Virtual. Event tersebut menjadi event manis yang tak akan terlupakan. Sebab, dia bisa menampilkan karya tari pertamanya di event tersebut. “Bangga bisa menampilkan karya sendiri di event yang cukup besar,” tandasnya. (tan/hai)

Editor : Doni Setiawan
#trauma #karya seni #Tari Tompel