Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Anggaran Cekak, Pemkab Blitar Hanya Mampu Rawat Dua Pasar

M. Luki Azhari • Selasa, 4 Juli 2023 | 01:00 WIB
KHAWATIR: Satu titik atap di Pasar Wlingi tampak dipasang terpal untuk menahan kebocoran dan menghalangi terik matahari.
KHAWATIR: Satu titik atap di Pasar Wlingi tampak dipasang terpal untuk menahan kebocoran dan menghalangi terik matahari.

KABUPATEN BLITAR - Perawatan pasar tradisional di Bumi Penataran belum merata. Indikasinya, beberapa pedagang mengeluhkan sejumlah titik atap pasar mengalami kebocoran saat hujan. Kondisi tersebut membuat jalanan menjadi becek.

Seperti dikatakan pedagang Pasar Garum, Henny. Sejatinya, kondisi kiosnya masih layak untuk aktivitas jual beli. Namun, saat musim penghujan, atap yang bocor membuat akses menjadi kotor. Dia berharap perawatan pasar bisa dilakukan secara maksimal.

“Atas ini kalau tidak ditutup terpal, dagangan bisa langsung basah. Harapannya segera diperbaiki,” ujarnya kemarin (2/7).

Kondisi yang sama juga dikeluhkan Bambang, pedagang pasar lainnya. Meski kebocoran tidak parah, tetapi perlu diperbaiki. Sebab, pasar merupakan titik dengan sambungan listrik yang cukup banyak. Akan berbahaya jika hal itu tidak segera ditangani. “Untuk sementara ada pedagang yang memperbaiki kabel, mengganti baru, lalu ditutup atasnya,” sambungnya.

Sekretaris Dinas Industri dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar Ika Suprapti menyebut, revitalisasi pasar merupakan program yang setiap tahun dilakukan secara rutin. Itu untuk membuat pedagang dan pembeli merasa nyaman melakukan transaksi di pasar. Positifnya, perekonomian bisa berlangsung stabil.

Tahun ini tak kurang Rp 400 juta digelontor untuk perawatan pasar tradisional. Anggaran tersebut lebih banyak dari tahun lalu yang hanya sekitar Rp 150 juta. Minimnya anggaran perawatan pasar tahun lalu tak lain karena dampak Covid-19. Saat itu, pemerintah mengalihkan sebagian dana untuk penanganan wabah. “Tahun ini tidak semua pasar direvitalisasi. Karena memang menyesuaikan dengan kemampuan anggaran,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dana ratusan juta itu akan difokuskan untuk rehab dua pasar tradisional yang dikelola disperindag. Yakni, Pasar Garum dan Pasar Kademangan. Ika menjelaskan, dua pasar tersebut memang perlu perawatan. Sesuai pantauan di lapangan, kata dia, banyak atap bocor dan penataan kabel yang ruwet.

“Karena pasar itu sudah lama. Apalagi musim hujan, rata-rata bocor. Takutnya terjadi korsleting, makanya diantisipasi. Biasa, pasar zaman dulu kabel kabelnya ruwet,” tutur perempuan berhijab itu.

Untuk diketahui, terdapat 13 pasar yang dikelola pemkab. Jikalau dua pasar tahun ini mendapat sentuhan perawatan, artinya 11 pasar lainnya harus ekstra sabar menunggu jatah revitalisasi. Maklum saja, itu karena anggaran yang terbatas. “Kami berusaha agar pasar pasar di kabupaten bisa memenuhi standar, walaupun sebenarnya perlu effort lebih untuk mewujudkan pasar sesuai standar,” tandasnya. (luk/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#atap pasar bocor #anggaran #pasar tradisioanal