KABUPATEN BLITAR - Ratusan perajin gerabah di Dusun Precet, Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan masih aktif hingga kini. Meski zaman sudah modern, karya tangan mereka masih diminati. Bahkan, terpaksa balik kampung karena omzet lumayan.
Banyak sekali perajin di Bumi Penataran. Salah satunya, di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan. Umumnya pengusaha akan memilih usaha yang trennya modern. Namun, di desa ini, sebagian masyarakat memilih usaha tradisional. Yaitu, membuat gerabah. Selain mencari pendapatan, aktivitas produksi gerabah ini juga mengusung misi pelestarian kerajinan tradisional agar tidak punah.
Hampir 80 persen warga di desa ini berprofesi sebagai perajin gerabah. Tidak hanya peralatan dapur, di tangan warga Dusun Precet ini, ada beberapa produk gerabah lain yang dihasilkan. Seperti vas bunga, asbak, guci, dan beberapa benda pelengkap interior lainnya.
Saking banyaknya masyarakat yang memproduksi gerabah, desa ini kondang dengan sebutan Kampung Gerabah. Predikat itu muncul sekitar 2018 lalu. Padahal, jauh sebelum itu banyak masyarakat sudah memproduksi gerabah.
“Saya mulai membuat gerabah sekitar tahun 2019,” tutur seorang perajin gerabah, Mukhtaromin.
Kala itu, bapak satu anak ini sudah berusia 40-an. Dia tertarik untuk membuat gerabah karena warga di lingkungannya mayoritas berprofesi sebagai perajin tanah liat tersebut. Wadah makan kelinci menjadi produk pertamanya. “Lama-kelamaan banyak orang yang suka dengan produk buatan saya,” terangnya.
Keputusan Mukhtaromin menggeluti gerabah boleh dikatakan sedikir terlambat. Sebelumnya, dia berpikir bahwa aktivitas membuat gerabah tidak menguntungkan. Karena itu, dia memilih merantau ke luar kota saat muda.
Kini, aktivitas produksi gerabah di desa tersebut tidak hanya menjadi produksi dan usaha. Namun, ada peran edukasi dan wisata yang mulai dirasakan oleh masyarakat. Karena alasan itu, para perajin juga membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Perkumpulan tersebut juga digunakan sebagai sarana komunikasi dan edukasi antarperajin gerabah.
“Kelompok pokdarwis dibentuk oleh masyarakat agar penjualan gerabah semakin maju dan berkembang. Jika ada perajin yang bingung dalam pemasaran gerabah, maka kelompok pokdarwis akan membantu dalam pemasaranya,” jelas Mukhtaromin.
Meski begitu, tak sedikit perajin yang memilih mandiri atau tidak aktif untuk urusan usaha gerabah tersebut.
Aktivitas bergelut dengan lumpur ini ternyata cukup menghasilkan. Dalam sebulan, idealnya perajin mengantongi omzet sekitar Rp 6 juta. Bahkan, saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, omzet mereka justru mencapai 4-5 kali lipat. “Karena banyak orang beraktivitas di rumah, merawat bunga jadi hobi banyak orang. Akibatnya, banyak pesanan vas bunga,” tuturnya.
Siklus penjualan gerabah cukup dinamis. Biasanya dipengaruhi oleh momentum semisal musim pernikahan. Saat momen tersebut, para perajin sampai kehabisan stok. Sebaliknya, saat hari biasa, ratusan gerabah kadang nganggur di gudang.
Untuk masalah penjualan, para perajin tidak hanya memanfaatkan teknologi. Mereka juga masih menggunakan jaringan lawas yakni para pedagang maupun distributor gerabah.
Walaupun pemasaranya terbilang simpel, penjualannya sudah mencapai ke kota–kota besar seperti Makasar dan Denpasar. “Tantangan kami saat ini adalah inovasi produk. Itu juga bagian dari menumbuhkan minat dan ketertarikan pasar terhadap gerabah,” terangnya. (*/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan