KOTA BLITAR - Belajar budi daya bonsai secara otodidak, Hariyanto berhasil raup pundi-pundi rupiah. Meski perawatan mudah, pembudi daya dituntut peka. Seperti lukisan, ada ciri atau perbedaan pada tiap bonsai yang dibudidayakan.
Puluhan bonsai tertata rapi di pekarangan rumah warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan. Terlihat pria paro baya sedang sibuk merawat tanaman bonsai tersebut. Dia adalah Hariyanto. Tangan keriputnya cukup cekatan memasang kawat pada ranting. Memaksa tanaman jenis beringin itu mengikuti pola kawat sesuai keinginannya.
Hari -sapaannya- sudah puluhan tahun menekuni budi daya bonsai. Belajar otodidak sejak 1985, hingga bisa mendirikan galeri bonsai sendiri. Awalnya, dia hanya berjualan bunga hias biasa. Setelah melihat peluang bisnis bonsai yang cukup menjanjikan, dia pun tertarik dan mencoba menekui budi daya bonsai. “Dulu awal jualan dapat pesanan dari Batu, Kota Malang,” ungkapnya kemarin (3/7).
Sebelum menekui bonsai, Hari adalah pendidik di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Blitar. Selama hampir delapan tahun mengabdi, dia memutuskan keluar dan fokus untuk budi daya bonsai. “Alhamdulillah saya bisa mengantarkan ketiga anak saya menjadi sarjana berkat budi daya bonsai ini,” ujarnya.
Pria yang ditunjuk sebagai wakil Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Blitar ini tak menyesali keputusannya untuk berhenti mengajar. Sebab, peluang bisnis bonsai jika ditekuni secara sungguh-sungguh bisa menjadi ladang cuan yang menjanjikan.
Satu pohoh bonsai jika dijual ke luar daerah bisa sampai puluhan juta. “Kalau di luar negeri bisa sampai ratusan. Ada yang terjual Rp 100 juta,” imbuhnya.
Hampir 38 tahun berkecimbung di dunia bonsai, berbagai jenis tanaman bonsai sudah dijual tak hanya di Indonesia, tetapi juga mancanegara. Jenis bonsai miliknya juga bermacam-macam, mulai dari lokal hingga internasional. Jenis bonsai luar negeri seperti Cianchi dan Hokianti. Jenis lain yakni Sainsimbur dari Vietnam dan seribu bintang dari Thailand. Kemudian untuk jenis lokal di antaranya bonsai serut, siser, loa, dan asam jawa.
Menurut pria 61 tahun ini, yang paling banyak diminati dan menjadi ikon bonsai dari Indonesia adalah bonsai asam jawa. Sebab, bonsai asam jawa identik dengan negara Indonesia. “Menurut sejarah, asam jawa bisa hidup hingga 350 sampai 500 tahun. Sehingga bagus untuk dijadikan bonsai,” jelasnya.
Untuk merawat bonsai, lanjut dia, harus memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Sebab, harus memperhatikan kondisi daun dan batangnya. Harus telaten untuk memotong ranting pohon yang dinilai kurang indah. “Karena bonsai yang dijual keindahannya. Sama dengan pelukis yang menghasilkan karya. Pasti punya ciri khas dan ekspresi masing-masing,” ujarnya.
Ciri khas bonsai miliknya berjenis formal dan informal. Bonsai formal berbentuk tegak, sedangkan bonsai informal tegak dengan beberapa batang yang meliuk. Meski begitu, dia juga membuat bentuk bonsai lainnya sesuai dengan kebutuhan.
Harga jual bonsai bervariasi. Tergantung dari besar kecilnya bonsai serta lamanya proses training. Semakin lama prosesnya, harga jual semakin bertambah. Paling kecil dibanderol dengan harga Rp 50 ribu. Biasanya digunakan sebagai suvenir. Paling mahal untuk wilayah lokal sampai puluhan juta. “Juga dilihat dari daya tarik bonsai selama ikut kontes. Semakin banyak peminat, peluang daya jual cukup tinggi,” ujarnya.
Peminat bonsai miliknya bukan hanya dari wilayah lokal, melainkan sampai luar negeri. Di Indonesia, peminat hampir menyeluruh. Paling sering dari Blitar, Bogor, Bandung, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara. Kemudian untuk luar negeri dari Belanda dan Australia.
Menurutnya, semakin jauh pemanitnya, harga akan semakin mahal. Sebab, ada biaya pengiriman dan perawatan bonsai selama proses pengiriman. “Misalnya di Blitar dijual Rp 1 juta, ketika sampai di Jakarta atau Bogor harga jual bisa sampai Rp 35 juta,” paparnya.
Bagi Hari, perawatan tanaman bonsai cukup mudah. Karena pemberian pupuk bisa dilakukan enam bulan sampai setahun sekali di media lahan dan lima tahun sekali untuk media pot. Ketika musim kemarau harus disiram setiap hari agar tidak kering. Tanaman bonsai pun jarang terkena serangan hama. Namun harus tetap diberikan pestisida sebagai antisipasi.
Meski memiliki peluang bisnis yang menjanjikan, Hari mengaku ada pasang surut dalam usahanya. Karena tak setiap hari ada konsumen. Rata-rata pembeli memang sudah menjadi peminat dan kolektor bonsai. “Bonsai itu hanya pekerjaan iseng dan sampingan. Sekali belanja ada yang sampai Rp 106 juta. Makanya bisa dibilang pendapatan tak terduga,” tandasnya . (*/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan