RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Pembunuhan pasangan suami istri asal Desa/Kecamatan Ngantru menggemparkan masyarakat luas. Meskipun pelaku sudah menyerahkan diri, namun keluarga belum puas atas ancaman hukuman. Berikut petikan wawancara eksklusif tim Jawa Pos Radar Tulungagung pada anak dan menantu korban, Gustama (GT), Nabella (NB), dan Firda (FD) kemarin (5/7).
RaTu : Bagaimana tanggapan Anda terhadap ancaman hukuman pelaku?
GT : Ya kurang puas ya, jelas-jelas kurang puas. Karena dua nyawa terus hukuman hanya 15 tahun. Itu ya seperti tidak masuk akal bagi saya.
RaTu : Apakah Anda merasa ada yang janggal pada proses pers rilis di Polres Tulungagung pada Senin lalu?
FD : Ayah tidak mungkin memiliki utang hingga ratusan juta. Sebab beliau termasuk pribadi yang sangat hati-hati dalam mengelola keuangan. Kalau beli-beli barang yang mahal itu pasti ngomong, jadi tidak mungkin punya utang sebanyak itu.
RaTu : Ayah Anda sebenarnya punya hobi dengan akik?
GT : Ayah tidak punya hobi memakai perhiasan seperti cincin batu akik. Pun sepengetahuan saya, sangat jarang bahkan tidak pernah menggunakan cincin. Bisa dilihat atau dicari di sosial medialah itu.
RaTu : Apakah Anda semua merasa ada rekayasa pada kasus pembunuhan ayah dan ibu?
FD : Kayaknya ada yang direkayasa di kasus ini, kayaknya ya. Waktu penangkapan itu petugasnya ada yang bilang kalau ini pembunuhan berencana. Tetapi sekarang kok bukan pembunuhan berencana atau spontan.
RaTu : Saat proses hukum berjalan, apakah pernah dihubungi polisi untuk dimintai keterangan?
GT : Tidak pernah. Petugas dari Polres Tulungagung hanya singgah saat kedatangan tim dari Polda Jatim. Setelah itu juga sudah belum ke sini lagi. Yang dihubungi itu justru cucunya budhe saya, itu ponakannya bapak. Ditanya cuma hari pertama setelah kejadian itu, tapi setelah pers rilis itu tidak ada yang menanyakan tanggapan dari keluarga terdekat untuk hasil dari pers rilis. Hanya terakhir itu ada pertanyaan kalau hukumannya tersangka itu segini, puas atau tidak.
RaTu : Yang terakhir, apakah sebelumnya ada firasat atas peristiwa ini?
GT : Tidak ada firasat apapun sebelumnya. Namun saat ziarah makam sehari sebelum Hari Raya Idul Adha, ayah sempat berucap kalau orang yang sudah mati itu bisa didoakan dari mana saja. Tetapi itu obrolan selayaknya nasihat dan sudah biasa di keluarga kami. Apalagi momennya juga pas setelah ziarah, tidak ada firasat aneh-aneh. (*)
Editor : Nurul Hidayah