Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ekonomi Mulai Normal, Retribusi Pasar di Kabupaten Masih 31 Persen

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 7 Juli 2023 | 04:00 WIB
Optimis: Pasar Wlingi ramai aktivitas menjadi retribusi pasar terbesar penyumbang PAD Kabupaten Blitar.
Optimis: Pasar Wlingi ramai aktivitas menjadi retribusi pasar terbesar penyumbang PAD Kabupaten Blitar.

KABUPATEN BLITAR – Hingga pertengah tahun ini, retribusi pasar di Kabupaten Blitar belum menyentuh 50 persen. Padahal perekonomian masyarakat sudah mulai normal. Diduga hal itu karena adanya pedagang yang pindah ke pasar desa.

Kepala Bidang (Kabid) Pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Sri Supartiningsih membenarkan, hingga bulan Juni ini retribusi pasar mencapai 31 persen. Pihaknya mengakui, angka itu dinilai masih jauh dari target. Namun pihaknya masih tetap optimis, akhir tahun nanti bisa mencapai target yang telah ditetapkan.

“ Target retribusi untuk 13 pasar di Kabupaten Blitar itu, sebesar Rp 5,1 milyar. Retribusi pasar tahun lalu belum tercapai karena ada Pasar Kesamben yang terkena musibah kebakaran pada bulan November 2022,” ujar Sri yang ditemui di kantornya kemarin (7/5).

Pasar Kesamben hingga bulan Juni 2023 belum bisa ditarik retribusinya. Itu karena menunggu perekonomian pedagang bisa normal. Retribusi Pasar Kesamben sudah diusulkan untuk ditarik mulai bulan ini, namun Bupati Blitar belum menandatangani nota dinas.

Sri menceritakan, penyebab lain kurangnya target retribusi pasar tahun lalu juga karena uang untuk disetor ke pemkab ikut terbakar, karena disimpat di kantor UPT. Padahal petugas akan menyetorkan pada awal pekan, namun pada Minggu 27 November pasar terbakar.

Apalagi hingga saat ini Pasar Kesamben belum ada revitalisasi lantaran menunggu bantuan dari pusat yang nantinya dikirim melalui dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR). Nantinya disperindag terima jadi dan langsung memanfaatkan bangunan pasar tersebut. Sekarang geliat penjual di pasar sudah normal, sejak direlokalisasi. Dia berharap retribusi mulai kembali naik.

“Hingga saat ini Pasar Wlingi penyumbang retribusi paling besar, dengan rata-rata tiap tahun sebesar Rp 1,8 milyar. Sebelumnya, Pasar Kesamben menjadi penyumbang retribusi kedua terbesar,” terangnya.

Sri mengungkapkan yang terlihat ada kemajuan yakni Pasar Kademangan dan Pasar Lodoyo yang berada di 3 besar tingkat retribusi pasar. Sedangkan yang sepi yakni Pasar Nglegok, karena pedagangnya pindah ke Pasar Penataran di desa. Akibatnya, hanya sedikit pedagang yang beraktivitas di pasar daerah tersebut. Selain itu, Pasar Doko hanya aktif di hari tertentu dan pedagangnya pun tidak sedikit. Pasar Ngembul di Kecamatan Binangun juga sepi, namun Pasar Gandusari meskipun terlihat kecil, masih tampak aktif. (jar/hai)

Editor : Doni Setiawan
#retribusi pasar #disperindag #ekonomi