KABUPATEN BLITAR - Masyarakat pesisir Pantai Serang kian sadar melindungi penyu. Dulu sebelum konservasi dibentuk, tak jarang hewan dengan tempurung keras itu disembelih lalu dikonsumsi sehari-hari. Konservasi tersebut lahir agar keberadaan penyu tetap lestari.
Lapat-lapat suara seorang warga Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, terdengar dari kejauhan. Sosok perempuan berambut sepundak itu asyik memandangi bak merah. Rupanya, bak tersebut berisi puluhan bayi-bayi penyu atau yang dikenal dengan istilah tukik. Sebagian tukik tampak lincah berenang, sementara ada pula yang hanya berdiam diri.
“Sebentara lagi akan dilepas di laut. Ini untuk menjaga ekosistem laut, selain itu penyu harus dijaga keberadaannya agar tidak punah,” ujar Dita Faisal, 36, sembari memandangi makhluk mungil di bak tersebut.
Ya, Dita merupakan seorang relawan konservasi penyu. Di teras rumahnya yang tampak asri itu, jangan terkejut jika kerap terdapat wadah khusus berisi tukik. Reptile bernama ilmiah Eretmochelys imbricata itu bukan untuk dipelihara atau bahkan dikonsumsi. Melainkan, dirawat hingga menetas, setelah itu dilepaskan di pantai.
“Tidak jauh dari rumah saya, ada konservasi penyu. Sama, yakni setelah telur penyu menetas, mereka akan dikembalikan ke habitatnya,” tutur perempuan yang tengah berbadan dua itu.
Ke arah selatan berjarak 1 km dari rumah Dita, papan bertuliskan Konservasi Penyu Segoro Lestari tampak. Seorang lelaki bertubuh tegap, turun dari ATV. Dia bernama Impron Rosadi, 22. Dengan langkah santai, Impron menghampiri satu petak tanah berdinding batako. Di tanah tersebut, tertancap beberapa dahan kayu.
Lelaki beramput cepak itu menyebut, kayu sebagai penanda bahwa di lahan tersebut ada telur-telur yang sedang diinkubasi. Sebelum menetas, telur penyu itu menjalani masa inkubasi di dalam pasir selama 45-60 hari atau hingga menetas. Jumlahnya pun mencapai sekitar seribu butir telur. “Yang ada kurang lebih seribuan. Ini masih kami tunggu menetasnya. Tanda-tanda kalau menetas, permukaan pasir tampak berkurang,” jelasnya.
Dia merupakan humas di konservasi penyu tersebut. Maka, tak heran jika dalam waktu tertentu, dia kerap memantau pesisir pantai, atau sekadar mengecek perkembangan telur dan tukik. Keasyikan melestarikan penyu, kata Impron, bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Konservasi tersebut menerapkan sistem donasi. Setiap satu butir telur penyu yang dibawa ke petugas konservasi, akan dihargai senilai Rp 1.000. Telur penyu yang menetas usai diinkubasi, akan dibiarkan beradaptasi di wadah berisi air laut. Setiap dua hari sekali, air harus dikuras dan diisi air baru. Beberapa hari kemudian, tukik pun dirilis.
“Pokoknya sampai perut kuat dan plasenta hilang. Tidak ada perawatan khusus, kampanyenya begitu telur menetas langsung dilepas, jangan dikonsumsi,” paparnya.
Menurut dia, kebanyakan penyu sisik dan penyu hijau yang masuk ke area konservasi. Dua jenis tersebut tidak boleh jadi satu. Sebab, bisa memengaruhi jenis masing-masing. Dua jenis tukik baru bisa dipisahkan saat sudah menetas.
Dia menambahkan, sebelum konservasi terbentuk, tak sedikit warga yang memilih untuk mengonsumsi telur penyu itu. Bahkan, jika indukan penyu kedapatan sedang bertelur, warga menyembelih dan berujung jadi hidangan di meja makan. Padahal, kata dia, penyu merupakan hewan yang dilindungi dan tak boleh diburu.
“Sekitar 2015, warga sini yang sadar, itu prihatin. Lalu dapat telur, ditetaskan sendiri. akhirnya inkubasi sendiri, lalu dilepaskan ke laut,” tuturnya.
Konservasi itu terbentuk sekitar 2018. Lalu, masyarakat membentuk lagi di tempat berbeda. Komservasi tersebut memiliki donatur tetap. Warga yang berkontribusi, cukup menyerahkan telur penyu ke petugas konservasi lalu diganti dengan uang. Upaya tersebut rupaya berdampak positif terhadap roda perekonomian masyarakat setempat.
Hanya, lanjut Impron, pihaknya masih terkendala dengan bangunan fisik konservasi. Pasalnya, tak ada dinding atau pagar untuk melindungi telur-telur itu. Belum adanya listrik di area konservasi juga menjadi kendala. Pihaknya berharap, area tersebut bisa dibangun lebih layak. Misalnya, dibangun pagar, lalu atap untuk melindungi telur saat cuaca terik maupun hujan. “Alhamdulillah, Juni lalu dapat bantuan sarpras dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan). Seperti laptop, senter, tenda, ATV, gazebo, kolam karantina, bak fiber, hingga pompa air,” terangnya.
Nah, tak cuma bisa mengubah pola pikir masyarakat, edukasi seputar pentingnya menjaga populasi penyu turut menjadi magnet bagi para mahasiswa. Yakni, untuk penelitian dan lainnya. Mereka bisa menginap di hunian yang telah disediakan secara gratis. Untuk konsumsi sehari-hari, mereka harus membeli ikan atau olahan di warga setempat.
Besar harapan Impron agar keberadaan penyu tidak terancam oleh oknum tak bertanggung jawab. Menurutnya, hadirnya konservasi-konservasi di seluruh Indonesia bisa menekan kasus penyembelihan atau perburuan penyu. “Karena penyu juga berperan penting dalam menjaga ekosistem laut. Kita harus sadar akan hal itu,” tandasnya. (*/din)
Editor : Doni Setiawan