KABUPATEN BLITAR - Sempat viral di pertengahan 2017, wisata alam Kaloka kini mulai ditinggalkan penikmatnya. Wisata tersebut berlokasi di Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan.
Wisata alam kaloka menawarkan keindahan alam perhutani. Namun, berdasarkan pantauan Koran ini di lokasi, saat ini kondisinya seperti kota mati. Terlihat beberapa fasilitas permainan yang mulai reyot. Salah satu ayunan tampak disambung dengan tali tambang. Tak hanya itu, sejumlah warung makan juga tampak tutup. Bahkan kondisinya ada yang hampir ambruk. Daun-daun kering dan beberapa sampah sisa makanan berserakan. “Sepertinya ada empat warung yang masih jualan tiap hari. Beberapa jualan setiap Sabtu dan Minggu saja,” ungkap salah satu pedagang, Nur Istiqomah.
Menurut Nur, kondisi seperti ini mulai terjadi pascapandemi Covid 19. Karena adanya PPKM wisata Kaloka sempat tutup total. Akibatnya, sejumlah fasilitas seperti wahana permainan dan spot foto menjadi rusak karena tidak ada yang merawat. “Pengunjung mungkin tidak mau mampir karena memang sudah tidak ada spot yang menarik,” tandasnya.
Biasanya, lanjut dia, ada beberapa anak muda nongkrong di lokasi tersebut. Tak hanya itu, beberapa pengunjung juga sekedar istirahat sehabis melakukan perjalanan jauh. Lokasi wisata Kaloka memang tertetak di jalan alternatif Malang-Blitar. Sehingga sejumlah pelancong mampir sembari beristirahat. “Sepi sekarang. Palingan anak-anak muda nongkrong,” ujarnya.
Meski dengan kondisi yang sepi, Nur mengaku, masih berjualan lantaran untuk membantu perekonomian keluarga. Masih ada kesempatan mendapat keuntungan ketika weekend. “Kadang kalau Sabtu, Minggu lumayan ramai. Walaupun nggak seramai dulu,” katanya.
Dia berharap ada beberapa bantuan dari pemerintah. Supaya wisata Kaloka bisa eksis seperti dulu. “Eman-eman kalau ditinggal. Apalagi biaya membangun warung ini juga nggak sedikit,” tambahnya.
Sementara, salah satu pengunjung Asrofi juga menyayangkan kondisi tersebut. Seharusnya wisata tersebut bisa mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar. Kaloka masih memiliki potensi jika mendapat perawatan. “Dulu ke sini ramai sekali. Banyak spot-spot yang menarik. Sekarang berubah drastis. Harusnya ada perbaikan supaya bisa kembali menarik minat masyarakat,” tandasnya. (mg2/din)
Editor : Doni Setiawan