KABUPATEN BLITAR - Harga bunga kol anjlok akibat banyak petani menanam. Padahal pada tiga bulan lagi harganya sempat berkali-lipat.
“Panen kali ini memang harga anjlok, tapi tetap ada untung. Kini banyak yang menanam, terutama bekas lahan padi,” terang petani Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Khoir, kemarin (6/7).
Dia mengaku, sebelum panen kali ini harga sempat menyentuh Rp 10 ribu hingga 12 ribu per kilogram (kg). Dulu memang masih jarang panen bunga kol, sehingga harga tinggi.
Namun sekarang ini harga Rp 3.500 per kg. Lantaran petani panen bersamaan dan lahan padi yang tidak ditanami dimanfaatkan untuk tanaman kol.
Dia tidak mempermasalahkan jika harga bunga kol anjlok. Dengan alasan sudah dapat untuk biaya produksi selama masa tanam. “Panen kali ini diperkirakan dapat dua ton,” tandas pria 48 tahun ini.
Dia menjelaskan, untuk panen bunga kol ini sekitar 55 -100 hari. Jika petani lokal lebih pilih panen pendek. Sehingga setahun bisa empat kali. “Dalam setahun saya bisa empat kali panen, sisanya ditanami tanaman lain atau untuk masa pengembalian hara tanah,” ungkap pria 48 tahun ini.
Terkait perawatan, lanjut dia, tidak ada masalah dan sangat mudah. Yakni butuh pemupukan tiga kali. Yakni ketika tanaman berusia 10, 20, hingga 30 hari, setelah itu hanya perawatan ringan.
Untuk pupuk menggunakan Urea subsidi dan ZA jenis impor sangat efektif. Diperkirakan dana diperlukan Rp 1,5 juta. Dengan kombinasi jenis pupuk tersebut, daun dan akar tanaman ini akan lebih subur dan lebar. Sehingga berpengaruh dengan bunga kol. Rata-rata bunga kol bisa mencapai bobot hingga 0,5 kg.
Bagaimana dengan hama? Dia menjelaskan, hama biasanya hanya ulat daun. Namun ketika disemprot obat jarak beberapa jam akan mati. Jadi sangat ampuh untuk pembasmian hama.
Dia berharap, harga tanaman kol ini bisa kembali membumbung, sehingga menambah pundi pendapatan. “Kalau untuk penjualan tiadak ada masalah, di Pasar Ngemplak sudah banyak yang mengambil,” tandasnya.
Dia menambahkan, selain menanam bunga kol, juga cabai, seladri. Itu dengan tujuan bisa mendapatkan pendapatan di sisi lain. Jika hanya mengandalkan satu jenis tanaman, akan berisiko tinggi. (sch/din)