Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cuaca Berubah-Ubah, Petani Bawang di Blitar Gelisah

Agus Muhaimin • Senin, 10 Juli 2023 | 19:08 WIB
WASWAS: Nihayah sedang merawat tanaman bawang merah miliknya. Di cuaca lembap, bawang merah rentan diserang ulat.
WASWAS: Nihayah sedang merawat tanaman bawang merah miliknya. Di cuaca lembap, bawang merah rentan diserang ulat.

KABUPATEN BLITAR - Kondisi cuaca yang kerap berubah membuat petani bawang merah di Bumi Penataran khawatir panen tak maksimal. Pasalnya, cuaca yang labil dan tidak bisa diprediksi ini membuat bawang merah rentan dimakan ulat.

“Memang saat ini belum ada. Tapi kalau terlalu lama cuaca lembap bisa saja diserang ulat,” ungkap salah satu petani bawang merah Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Nihayah.

Menurutnya, bawang merah sangat rentan dan sensitif terhadap perubahan cuaca. Kondisi hujan dengan waktu yang cukup lama akan membuat pertumbuhan bawang merah menjadi terhalang. “Jika intensitas hujan terlalu sering bisa membuat pupuk dan unsur hara tanah hanyut terbawa air hujan,” tambahnya.

Dia memprediksi, jika beberapa hari ke depan hujan kembali turun, tanaman bawang merah miliknya bisa saja diserang penyakit dan hama seperti ulat. Biasanya jika sudah seperti itu, Nihayah akan memanen bawang merah miliknya lebih awal. Langkah tersebut dipilih untuk meminimalisasi kerugian. “Kalau nggak segera dipanen bisa menyebar ke tanaman lain,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Mujianto, warga Desa Kerjen, Kecamatan Srengat. Dia mengaku sebagian tanaman miliknya menunjukkan tanda-tanda terserang penyakit akibat cuaca yang labil. “Nama penyakitnya fusarium. Jadi yang diserang daunnya, tiba-tiba layu dan mati,” jelasnya.

Saat ini, umur bawang merah miliknya sudah mencapai 25 hari sehingga sudah mendekati masa panen. Berbagai upaya dilakukan Muji agar tanaman bawang miliknya tidak rusak. “Biasanya disemprot dengan obat-obatan atau ditutup dengan plastik jika hujan deras,” paparnya.

Dikatakan Muji, jika bawang merah miliknya tidak terkena penyakit, sawah seluas 1.400 meter persegi miliknya bisa menghasilkan 2 ton bawang merah. “Kalau kondisi seperti ini bisa 1,5 ton saja,” tandasnya. (mg1/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#petani bawang #cuaca extrem #bawang merah