KABUPATEN BLITAR - Pantai Tambakrejo, di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, dalam tiga mengalami pasang air laut. Disebabkan puncak bulan purnama, sehingga membuat gelombang tinggi. Tak jarang membuat warung warga dilibas ombak pantai selatan tersebut.
“Pada 14 bulan purnama, biasanya posisi bulan, bumi, dan matahari berada dalam satu garis lurus, sehingga pengaruh dengan kondisi laut,” ujar penunggu parkir di Pantai Tambakrejo, Tekno, kemarin (8/7).
Dia mengatakan, bahwa Pantai Tambakrejo sudah tiga hari mengalami air pasang. Yaitu pada Rabu, Kamis, Jumat. Untuk kondisi pada Sabtu ini sudah menurun kembali.
“Pada saat fenomena alam tersebut terjadi, air meluap sampai ke warung dan jalanan. Namun hal itu terjadi hanya sementara waktu. Sekitar satu jam, lalu semua kembali normal kembali,” tandasnya.
Walaupun air laut pasang yang sampai masuk toko hanya sebentar, para pedagang juga tetap waspada jika ada air susulan kembali. Antisipasinya berupa menaruh papan kayu di sekitar toko.
Pada saat terjadi air pasang, Pantai Tambakrejo tetap buka. Aktivitas yang terjadi di sana tetaplah normal, karena masyarakat sudah biasa menghadapi fenomena alam tersebut.
Warung yang berada di pinggiran Pantai Tambakrejo, pada saat terjadi pasang, kemasukan air laut yang banyak. “Hal tersebut sudah diantisipasi para pedagang di sana,“ ungkap salah satu pedagang di pantai, Sumar.
Dampak lain yang terjadi akibat air pasang, sampah terbawa ombak. Dari ujung timur sampai ujung barat pesisir pantai hampir 50 persen tertutup sampah. “Para pedagang selalu membersihkan sampah tersebut pada saat air sudah surut kembali,“ ucapnya.
Sampah yang terdapat di pesisir pantai berupa dedaunan kering, bungkus sisa makanan, dan ranting-ranting pohon.
Meski demikian, masih ada wisatawan yang tidak takut untuk pergi ke pantai termasuk Mawardi. Dia mengaku bahwa fenomena alam tersebut sudah lazim terjadi, asalkan tidak berenang di pantai, pastinya tetaplah aman.
Sebelum berangkat ke pantai, pria berkacamata tersebut, mengimbau anak -anak agar tidak mendekati lautan. Cukup di pesisir yang agak jauh dari air.
Kenikmatan pantai bukan hanya soal berenang di lautan saja. “Namun dengan melihat pantai saja hati sudah tenang,” pungkasnya. (mg2/din)
Editor : Doni Setiawan