Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Albashita Nurkarima Tekuni MC Jawa, Apa Saja Tipsnya?

M. Subchan Abdullah • Selasa, 11 Juli 2023 | 04:00 WIB
HARUS CERIA: Albashita Nurkarima saat mengisi acara Tedak Sinten warga beberapa waktu lalu.
HARUS CERIA: Albashita Nurkarima saat mengisi acara Tedak Sinten warga beberapa waktu lalu.

KABUPATEN BLITAR - Menjadi MC Manten Jawa di era milenial tentu memiliki tantangan tersendiri. Hal itu dirasakan oleh Albashita Nurkarima. Sering menjadi pembawa acara sejak dibangku sekolah, perempuan 24 tahun ini aktif menjadi di radio dengan membawakan acara nostalgian dan koplo.

Sayup-sayup suara nyondro Jawa terdengar. Rupanya Albashita Nurkarima sedang latihan di rumahnya sebelum mengisi acara esok hari. Mewarisi bakat seni dari sang kakek membuat Alba lantas mengikuti jejaknya. Kakeknya memang seorang pembawa acara kegiatan sepak bola pada waktu itu.

Tak hanya itu, kekaguman dan keinginan itu semakin membuncah ketika melihat reporter dan presenter yang sering menghiasi layar kaca. Bakat yang dimilikinya terlihat dari pembawaan dan nada bicara yang pas. Bahkan ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dia menjadi perwakilan sekolah untuk lomba story telling se-karisidenan Kediri dan berhasil membawa piala juara tiga. “Sejak saat itu semakin banyak latihan. Bahkan, selama sekolah sering ditunjuk sebagai pembawa acara di beberapa kesempatan,” ungkapnya ketika ditemui di rumahnya di Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, kemarin (9/7).

Perempuan yang memiliki nama penggung Ginuk Alba ini terus mengasah bakat yang dimilikinya. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dia rajin mengikuti ekstrakulikuler broadcasting. Setelah lulus pada 2018, dia mulai berkarir menjadi disk jockey (DJ) di salah satu radio. Bakat itu semakin ditekuni dengan melanjutkan pendidikan ke sekolah khusus Pambiwara Keraton Surakarta cabang Blitar. Role model-nya yaitu Wigung Wratsangka, MC (master of ceremony) manten berbasis Jawa dari Jogjakarta.

Bagi Alba, menjadi pembawa acara terutama untuk MC Jawa memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, sebagian masyarakat mengganggap bahwa perempuan itu lemah dan kurang bisa diandalkan. Perempuan terkesan diremehkan. Apalagi di Bumi Penataran ini mayoritas untuk pembawa acara manten adalah laki-laki. “Bahkan sampai saat ini saya rasa masih banyak penolakan. Mayoritas mereka berfikir ’wong wedok iso opo’ (perempuan bisa apa),” ujarnya.

Anggapan yang belum tentu benar itu tak membuat tekadnya goyah. Justru dia semakin termotivasi untuk terus berkarir di dunia public speaking utamanya menjadi MC Jawa. Untuk membuktikannya, dia harus bisa membawakan acara semeriah mungkin, menyenangkan, dan berkesan tak hanya pemilik hajat tapi juga audience.

Tantangan lain, lanjut dia, adalah ketika bertemu dengan audience ‘nakal’. Memang ketika menjadi pembawa acara harus siap dengan segala situasi. Apalagi ketika bukan acara formal, pembawa acara harus bisa ceria dan komunikatif dengan audience. “Waktu itu pernah ada yang pegang-pegang. Karena dituntut untuk profesional ya berusa untuk tetap tenang dan sebisa mungkin menghindar. Kadang kalau acara non formal memang harus sedikit centil tapi dalam batas wajar. Hal-hal seperti itu biasanya membuat pemikiran masyarakat bahwa MC perempuan itu sedikit murahan,” imbuhnya.

Namun, dibalik pengalaman yang kurang mengenakkan tersebut tentu ada sisi positif yang bisa diambil. Seperti mendapat teman dan relasi baru. Apalagi ketika menjalin relasi dengan orang-orang yang lebih dewasa banyak menemukan pengalaman baru. “Dulu pernah beranggapan bahwa berteman dengan orang yang sepantaran dengan orang tua saya itu membosankan dan kaku, tapi ternyata tidak. Malah sering dibekali ilmu-ilmu baru yang lebih luas,” jelasnya.

Kesulitan menjadi pembawa acara apabila mendapatkan patner atau audience yang kurang se-frekuensi. Kurang sportif dan timbal balik yang pasif. Dengan demikian, pembawa acara harus bisa membuat euforia yang menyenangkan agar audience tidak bosan.

Persiapan sebelum memulai acara juga perlu dipersiapkan secara matang. Penguasaan materi, konsep acara, dan menghafal nama-nama yang terlibat dalam acara. “Kebiasaan yang selaku saya lakukan selama diperjalanan menuju lokasi selalu bersolawat, jangan sampai putus,” tandasnya. (*/sub)

Editor : Doni Setiawan
#tips #Albashita Nurkarima #mc jawa