KABUPATEN BLITAR - Tampil di depan umum dengan alat marching band telah menjadi kebiasaan dari Mochamad Fiqhan Nida sejak kecil. Warga Desa Bakalan, Kecamatan Wonodadi itu, menjuarai belasan kompetisi marching band secara individu dan kelompok.
Terbaru dia menjadi juara 1 lomba marching band di Universitas Udayana, Bali secara virtual. Piko sapaan akrabnya, mewakili tempatnya berkuliah yakni di Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Prestasinya itu membuat orang tuanya bangga, karena termasuk keluarga seniman.
Orang tuanya hobi dengan musik dan pernah membuat band, sehingga memotivasinya terjun menekuni marching band. ”Saya persiapan lomba di Bali itu kurang lebih selama 1 bulan. Setelah pengumuman adanya lomba pada akhir April, saya melakukan latihan dan pengambilan video bersama tim marching band di kampus,” ungkapnya kepada koran ini, kemarin (10/7).
Piko menjuarai kompetisi di Universitas Udayana Bali sebagai pemain color guard, atau pemain marching band yang bertugas menari dengan bendera. Perlombaan sistemnya virtual, dengan mengirim video marching band dan hasilnya diunggah ke website dari kompetisi tersebut. Dia tiga kali mengikuti kompetisi ini, pada 2021 lalu dan berhasil meraih juara 1.
Namun, pada 2022 lalu, tidak mengikuti kompetisi tersebut karena ada halangan tertentu yang membuatnya tidak ada persiapan. Hingga akhirnya terpancing untuk ikut lagi di tahun ini. Dia meraih juara 1 individual kontes. Dengan sistem penilaian, juri melihat video marching band dan dinilai dengan mengomentari dari gerakan-gerakannya. “Kompetisi yang baru saja saya ikuti ini belum ada komentar dari juri yang saya terima. Karena jurinya sama seperti 2021, mungkin komentarnya juga sama. Seperti mengomentari lebih pada gerakannya, agar tidak monoton dan dikembangkan di kompetisi selanjutnya,” terangnya.
Dia mengaku menekuni marching band sejak kelas III SD karena keluarganya juga merupakan seniman musik. Oleh karena itu, Piko diarahkan untuk masuk ke marching band di SD negeri di Wonodadi. Ketika kelas III SD masih penempatan alat musik marching band, dengan menjajal semunya secara bergantian.
Ketika Piko menginjak kelas VI SD masuk seksi color guard, hingga tiap tampil di acara dan lomba sekolah dengan memegang bendera. Namun, ketika kuliah pada 2020 pindah seksi alat musik ketuk, yakni pitch. Kemudian masuk ke pengurus marching band UIN Satu Tulungagung.
Mahasiswa semester 6 UIN Satu Tulungagung ditunjuk untuk menjadi tim kepelatihan dan langsung menangani color guard marching band UIN Satu Tulungagung. Lantaran, pelatih sebelumnya merupakan pemain alat musik tiup dan pelatih lainnya menganggap Piko lebih berpengalaman di color guard.
Selama menjadi mahasiswa UIN Satu Tulungagung dia banyak meraih prestasi secara individu, baik offline dan virtual. Diantaranya menjadi juara 1 Kediri marching band. Pada tahun 2019 meraih juarai 1 kompetisi marching band di Kediri, Tulungagung, Sidoarjo dan Bali.
Sedangkan kompetisi secara virtual, Piko banyak menjuarai kompetisi secara individu. Yakni, pernah menjadi juara 3 kompetisi di Jakarta pada 2020. Pada tahun yang sama, mendapatkan juara 1 di Jakarta dengan berbeda penyelenggara. Sejak 2021 hingga tahun ini, dia selalu mendapatkan juara 1.
“Kesulitan selama marching band kadang dikasih materi yang susah, tapi dituntut harus bisa. Proses mengejar materi itu sendiri di color guard banyak resiko, karena gerakannya menari denagn bendera dan tongkatnya,” ungkapnya.
Bahkan resiko yang pernah dialami Piko, ketika belajar melempar alat bendera serta tongkat dengan teknik-teknik sulit membuatnya cidera. Karena tertimpa tongkat, hingga membuatnya keseleo dan lebam-lebam. Hal itu dilaluinya demi mendapat hasil yang baik setiap kompetisi diikutinya, sehingga bisa membuat kemenangan dengan proses seperti itu.
Sedangkan kesulitan ketika menjadi pelatih, harus sabar karena anggota marching band didikannya banyak yang belajar dari nol, sehingga menyulitkannya. “Kadang yang sulit ada anggota baru gabung ke tim marching band, sedangkan yang lain sudah bisa gerakan. Saya harus mengajarinya dari awal, tapi itu udah resiko jadi pelatih harus bisa menghadapi semua tantangan yang datang,” tutur Piko.
Pada akhir tahun nanti, ada kompetisi marching band nasional di Jakarta yang telah menunggunya. Oleh karena itu, sejak sekarang dia dan timnya melakukan latihan tiap minggu. Untuk bisa meraih hasil maksimal dalam kompetisi tersebut. (jar/sub)
Editor : Doni Setiawan