Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Satu Sungai di Kota Blitar Tercemar Limbah Pabrik Tahu

M. Luki Azhari • Rabu, 12 Juli 2023 | 01:00 WIB

MENGALIR: Salah satu sungai di Jalan Mastrip, Kota Blitar tahun ini mendapat perawatan DLH demi mengantisipasi adanya pencemaran lingkungan.
MENGALIR: Salah satu sungai di Jalan Mastrip, Kota Blitar tahun ini mendapat perawatan DLH demi mengantisipasi adanya pencemaran lingkungan.
 

KOTA BLITAR - Belum semua aliran sungai di Bumi Bung Karno resik. Indikasinya, masih terdapat sungai dengan cemaran limbah industri rumah tangga dan pabrik tahu. Hal itu berpotensi memengaruhi indeks kualitas lingkungan (IKL).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar Jajuk Indihartati mengungkapkan, setiap tahun DLH mengalokasikan anggaran yang bersumber dari APBD untuk perawatan sungai. Ada sembilan sungai yang mengalir di Kota Blitar harus bersih. “Setahun ada tiga kali pemeriksaan. Hasil akhir saat akhir tahun, dimasukkan pada perhitungan indeks kualitas lingkungan, jadi acuan tiap tahun,” ujarnya, kemarin (10/7).

Tahun ini, tak kurang Rp 300 juta digelontor DLH untuk mengoptimalkan kondisi kebersihan sungai. Selain untuk kegiatan pembersihan, anggaran tersebut juga dimanfaatkan untuk uji sampel air pada masing-masing ruas sungai. Uji sampel itu untuk meminimalisasi terjadinya pencemaran lingkungan.

Dari sembilan sungai yang tersebar di tiga kecamatan, terdapat salah satu sungai yang dinilai kurang bersih. Yakni, sungai di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo. Jajuk menilai, kondisi itu dipicu limbah dari industri rumahan dan pengolahan tahu. Menurutnya, industri tersebut sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). “Ya, sudah mengantongi IPAL, tapi mungkin pemanfaatannya kurang optimal. Perlu kerja sama lintas OPD untuk menangani hal itu,” terangnya.

Terkait persoalan itu, lanjut dia, DLH tetap melakukan pembinaan terhadap industri tahu tersebut. Selain DLH, dinas perdagangan dan perindustrian (disperdagin) juga harus terlibat memberikan pengarahan terhadap standar produksi yang baik agar limbah tak mencemari lingkungan.

Jajuk meminta masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan sungai. Sebab, sungai berperan penting terhadap kehidupan, utamanya pada sektor pertanian. “Kami juga membina masyarakat agar IPAL domestik itu dikelola dengan baik. Selain itu, jangan ada lagi yang BAB sembarangan di sungai perkotaan,” tandasnya. (luk/sub)

Editor : Doni Setiawan
#sungai tercemar #Limbah Pabrik Tahu #sungai