KABUPATEN BLITAR - Candi Kalicilik menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Bumi Penataran. Namun, siapa sangka bangunan lawas peninggalan masa kerajaan Majapahit itu juga membutuhkan perawatan yang cukup njlimet. Terlebih saat musim penghujan tiba.
“Jane perawatan candiki penak (sebenarnya perawatan candi itu mudah, red),” ujar juru pelihara Candi Kalicilik, Wakinah.
Dalam proses pembersihanya, kata Wakinah, alat yang digunakan tergolong sangat simpel. Hanya bermodalkan sapu lidi dan sikat baju. Karena pada musim kemarauu lumut tidak mau tumbuh di candi.
Sebaliknya wakinah butuh sedikit kerja ekstra saat musim penghujan tiba. Pembersihan harus mendetail. Lumut yang tumbuh di sela-sela batu bata harus dicongkeli menggunakan sapu lidi, agar tidak ada alga yang bisa merusak bangunan atau komponen candi.
Kesulitan muncul saat bagian atas candi juga membutuhkan perawatan. Karena tinggi candi di Desa Candirejo, Kecamatan Nglegok tersebut hampir mencapai 9 meter. Dibangunan menggunakan bata merah, candi tersebut memiliki dimensi 6,6 × 6,6 meter. “Jika tidak memakai tangga, tidak mungkin untuk menjangkau bagian atasnya,” tuturnya.
Dalam proses ini, sambung dia, butuh waktu yang cukup lama. Karena harus berulang kali memindahkan tangga dalam proses pembersihan. “Selain membersihkan lumut yang menempel di candi. Pembersihan juga meliputi dedaunan yang jatuh di atasnya,” imbuh wanita 4 anak tersebut.
Setiap hari, candi ini terus dibersihkan. Ada atau tidak debu yang menempel di dinding candi. Sudah menjadi tugas Wakini melakukan pembersihan setiap hari. “Sejak 1997, sudah ada tiga candi yang tak rawat. Yaitu, Candi Sumbernanas, Candi Penataran dan Candi Kalicilik,” pungkasnya. (mg2/hai)
Editor : Doni Setiawan