KABUPATEN BLITAR - Mbah Karir, warga Desa Sukoreno, Kecamatan Gandusari merupakan salah satu dari tiga jemaah haji Kabupaten Blitar yang meninggal di Makkah, Minggu (9/7) lalu. Meninggal di tanah suci dan rampung menunaikan ibadah haji, keluarga berharap amal ibadah Mbah Karir diterima Sang Khalik.
Lantunan Surah Al-Ikhlas menggema dari hunian bergaya tradisional dengan nuansa putih itu. Persis di area teras rumah, terpasang baner bertuliskan “Selamat datang H. Karir”. Orang awam bisa saja menganggap bahwa keluarga tengah menunggu atau menyambut kepulangan Mbah Karir. Namun nyatanya, kakek berusia 95 tahun itu lebih dulu menghadap Ilahi, sehari sebelum tiba di kampung halamannya. Harapan keluarga untuk bisa mendengar cerita perjalanan ibadah haji Mbah Karir pun tak akan pernah terwujud.
Minggu (9/7) sejatinya merupakan momen bahagia keluarga. Sebab, Senin (10/7) lalu, jemaah haji Kabupaten Blitar dijadwalkan tiba di Blitar setelah lebih dari sebulan menunaikan ibadah di Arab Saudi. Sayangnya, tidak bagi Muhaimin, 60, putra Mbah Karir. Sebagai seorang anak, dia teramat sedih kala menerima kabar bahwa sang bapak telah pergi untuk selama-lamanya.
“Pasti kami sebagai anak sedih, itu manusiawi. Tapi alhamdulillah sekali karena bapak sudah menunaikan semua ibadah haji di sana,” ujar Muhaimin, putra kedua dari tujuh bersaudara.
Dia pun mengulas kembali keinginan sang bapak untuk berangkat haji. Karir tercatat mendaftar haji di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Blitar sekitar 2015 lalu. Karir tak daftar sendirian, melainkan turut mendaftarkan sang istri, Amanah, 85. Sekian tahun berlalu, tepatnya 2022 hanya Karir yang mendapat jatah berangkat haji. Sementara istrinya tak masuk daftar pemberangkatan. Lantaran berstatus lanjut usia (lansia), Karir pun harus menunda keberangkatan.
Muhaimin melanjutkan, tahun ini nama sang bapak masuk daftar berangkat haji. Lagi-lagi, hanya Karir yang masuk prioritas pemberangkatan. Hasil itu sekaligus menunda harapan Karir untuk bisa berangkat berdua bersama sang istri. Meski begitu, pihak keluarga tetap menyarankan agar lelaki yang setiap hari bekerja sebagai petani itu tetap berangkat.
“Rencananya, kan kalau barengan itu biar sekalian ibadah. Biar sama-sama. Tapi ya memang manusia tidak bisa menghindari panggilan Gusti Allah,” imbuhnya.
Pria berambut cepak itu menyatakan bahwa persiapan menjelang keberangkatan sangat baik. Bahkan, dia meminta sang bapak tidak lagi menjalankan aktivitas yang melelahkan. Seperti mencangkul di sawah dan lain sebagainya. Itu semata-mata dilakukan agar kondisi kesehatan saat beribadah semakin maksimal.
Masa pemberangkatan pun tiba. Minggu (28/5) pukul 02.00 dini hari, Karir berangkat dari rumahnya. Gema azan dan solawat pun dilantunkan oleh keluarga. Di momen itu, Muhaimin menilai wajah bapaknya tampak lebih muda dan bersih, berbeda dari sebelumnya. Saat itu, tak ada firasat apapun di benaknya bahwa salah satu orang tuanya akan berpulang.
“Kalau firasat itu, sebelum berangkat saya lihat wajahnya itu kok rasanya beda dari biasanya. Tampak bersih, bercahaya. Ternyata itu terakhir kali kami melihatnya,” paparnya.
Berbeda dengan yang dirasakan Ahmad Udori, putra kedua Karir. Mendampingi orang tuanya dari rumah ke titik kumpul pemberangkatan di Kanigoro, dia mengaku bahwa Karir tak berpesan apapun kepada keluarga yang ditinggalkan. Justru, pihak keluarga yang meminta agar Karir bisa melangsungkan ibadah dengan khusyuk dan tiba di rumah dengan selamat.
“Kalau bapak tidak ada wejangan. Bapak itu orangnya memang diam. Malah kami yang pesan, kalau nanti pulang tidak usah beli apa-apa, tidak usah mikir yang di rumah,” sambung pria yang karib disapa Dori itu.
Selama di Arab Saudi, lanjut dia, pihak keluarga senang lantaran menerima kabar di setiap kegiatan. Bahkan saat lempar jumroh aqobah, Karir tampak bersemangat beribadah di tengah-tengah lautan manusia. Barulah saat seluruh rangkaian ibadah haji rampung, Karir dikabarkan masuk rumah sakit lantaran serangan jantung. Seketika keluarga khawatir dan terus memanjatkan doa terbaik.
“Saya sudah agak punya firasat itu saat bapak masuk rumah sakit. Ternyata benar, sehari sebelum pulang, bapak lebih dulu pulang ke rahmatullah,” tuturnya sambil memandangi foto Karir di ponsel miliknya.
Sebelum menerima kabar bahwa Karir meninggal dunia, pihak keluarga sudah berkumpul di rumah. Memasang banner ucapan kedatangan Karir seusai menunaikan ibadah rukun islam kelima, serta memasang tenda untuk kerabat yang melaksanakan ziarah haji.
“Saat kami terima kabar itu, semua langsung terdiam. Termasuk ibu, lemas. Tetapi setelahnya, kami coba ikhlas. Banner dan tenda tetap dipasang, wujud ucapan untuk bapak yang telah selesai ibadah,” bebernya.
Bagi Dori dan Muhaimin, ada makna tersendiri saat Karir dimakamkan di tanah suci. Kedua anak Karir itu berharap, seluruh amalan ibadah diterima Allah. Untuk melepas kerinduan, potret Mbah Karir akan terus terpasang di dinding dan benak keluarga.
“Semoga kembali suci bapak. Kami pun pasti akan menyusul. Semoga ini juga tanda agar seluruh keluarga bapak bisa berhaji, sekaligus ziarah ke makam bapak,” pungkas Muhaimin. (luk/hai)
Editor : Doni Setiawan