KOTA BLITAR - Warung makan umumnya didirikan sebagai sarana usaha untuk menghasilkan profit. Namun hal ini tidak berlaku di warung makan yang berlokasi di Jalan Anjasmoro Nomor 33 Kota Blitar. Beragam menu makanan yang disajikan tiap hari bisa dinikmati sepuasnya tanpa perlu bayar alias gratis.
Di warung berukuran 4×10 itu telihat sejumlah pengunjung sedang menyantap makanan. Tempat kuliner ini memanfaatkan trotoar untuk tempat makan. Sedangkan di dalam kios digunakan tempat menata menu makanan ala prasmanan.
Tiga meja yang tetata rapi itu penuh oleh pengunjung. Tidak ada batas bagi orang yang ingin mendapatkan makan gratis di rumah makan yang didirikan oleh sekelompok relawan di Kota Blitar ini.
Bermacam-macam menu tersaji di salah satu meja. Menu yang disajikan kemarin (12/7) sayur sop, sambal terong, semur tempe dan tahu, lodeh koro, serta gorengan.
Tampak Didin Andriyani dengan telaten melayani masyarakat yang mampir di warung miliknya tersebut. “Melihat mereka makan dengan lahap meski dengan lauk seadanya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” ungkapnya ketika disinggung ihwal gagasan mendirikan rumah makan gratis tersebut.
Ya, prihatin dengan kondisi ekonomi masyarakat selama Pandemi Covid 19 yang melanda beberapa waktu, membuat Didin memiliki ide untuk membuka rumah makan gratis. Meski pandemi telah usai, bersama keluarga dan sejumlah relawan aktif melakukan kegiatan sosial tersebut hingga saat ini. “Dulu cuma lima orang, Alhamdulillah sekarang ada sepuluh orang yang aktif membantu. Kami jaga bergantian setiap hari,” jelasnya.
Meski baru dua tahun berdiri, rumah makan tersebut selalu ramai setiap hari. Sekitar 150 orang dari berbagai kalangan rutin makan di sana. Baik orang dewasa maupun anak-anak. Mulai dari tukang parkir, pengemis, pemulung, kuli bangunan, tukang becak, tukang ojek, atau masyarakat sekitar. Setidaknya 20 kilogram nasi pasti habis. Untuk sayur disediakan 4-5 macam pilihan. Tak jarang ada orang baik yang menitipkan lauk. “Kalau tidak habis nanti akan dibagi-bagikan,” ujar perempuan berhijab itu.
Tak hanya sekali, lanjutnya, tak jarang mereka datang sampai dua kali. Yakni pagi dan siang hari. Warung makan gratis tersebut menang buka mulai pukul 09.00 sampai 14.00. Bahkan ada yang datang bersama keluarga. Didin bercerita orang tersebut aslinya orang Jakarta namun menetap di Blitar. “Dia berdiri di depan warung sambil menangis. Waktu saya tanya dia sangat bersyukur karena ada rumah makan gratis. Sebab, dia tak cukup biaya untuk menghidupi kelima anggota keluarganya,” paparnya.
Bertemu dengan banyak orang dengan berbagai golongan membuatnya selalu bersyukur. Alasan itu juga yang membuat Didin semangat untuk terus menjalankan aksi sosialnya bersama teman-teman relawan lain. Meski begitu, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya sifat iri yang dimiliki orang lain sempat membuat usahanya terhambat. Seperti sempat terkena hal-hal mistis yang membuat nasi yang sedang dimasak tak kunjung matang dan tetap keras. Meski begitu dia tetap legowo. Memang setiap perjalanan tidak selalu berjalan mulus.
Ketika pertama dibuka Didin mengaku sempat tak disetujui oleh kepala RT setempat. Sebab, berpotensi membuat kerumunan. Apalagi saat itu sedang maraknya virus Covid 19. Namun, dia bersama relawan lain kekeh untuk bertahan. “Saya tegaskan kepada mereka supaya mau tertib. Bahkan saya ancam kalau tidak mau tertib akan saya tutup,” jelasnya.
Dulu Didin memperbolehkan mereka membungkus makanan untuk dibawa pulang. Tapi ternyata niat baik tersebut disalahgunakan. Makanan yang dibawa pulang tidak tepat sasaran dan dimanfaatkan untuk kepuasan sebagian orang. Akhirnya dia pun sepakat untuk membuat aturan untuk makan di tempat. Kalaupun dibawa pulang harus dilakukan survei terlebih dahulu. “Kalau di rumah ada anggota keluarga lain yang tidak bisa ke sini kami sediakan tepak untuk wadah makanan,” katanya.
Tak hanya itu, aturan lain di rumah makan tersebut yakni setelah selesai makan setiap orang harus mencuci piring dan gelas mereka sendiri. Di depan rumah makan disediakan wastafel dan rak untuk menata peralatan makan mereka. Meski pernah ada yang pergi begitu saja, saat ini mereka malah saling mengingatkan jika ada yang lupa.
Bukan hanya orang-orang dengan kelas sosial bawah, anak sekolah tak jarang juga mampir sepulang sekolah. Bahkan Didin mengaku pernah ada satu keluarga yang jika dilihat memiliki perekonomian yang cukup. Terlihat dari mobil yang parkir di depan rumah makan miliknya. “Iya nggak apa-apa. Saya senyumin aja,” ungkapnya sambil tertawa.
Dia berharap aksi sosial yang dia lakukan bisa menginspirasi orang lain. Tak hanya dari relawan Didin juga membuka kesempatan untuk masyarakat jika ada yang ingin berdonasi. Bantuan bukan hanya berupa uang tapi juga sayur atau lauk. “Apapapun yang mereka punya kami juga menerima. Sayuran atau kebutuhan dapur lain, toh kami juga masaknya disini. Monggo kami dengan senang hati menerima,” tandasnya. (*/hai)
Editor : Doni Setiawan