KABUPATEN BLITAR - Perubahan cuaca yang tak menentu masih akan terjadi di Bumi Penataran. Kondisi tersebut berdampak pada produksi tangkapan ikan nelayan.
Berdasarkan data dari BMKG Jawa Timur, cuaca di wilayah Blitar akan cenderung cerah berawan. Itu karena adanya sistem tekanan rendah dari Filipina. “Potensi hujan cenderung gerimis tapi bisa hilang terbawa angin,” ungkap Pengamat Meteorologi dan Geofisika Jawa Timur Andang Kurniawan, kemarin (13/7).
Kecepatan angin juga sedikit lebih meningkat. Rata-rata 20 - 30 km/jam untuk kondisi normal. Sedangkan saat ini, naik mencapai 30- 40 km/jam. Untuk daerah pengunungan dan pantai bisa mencapai 50 km/jam. “Data tersebut bisa berubah setiap harinya,” jelasnya.
Sementara itu, Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Ahli Muda Dinas Peternakan dan Perikanan (disnakkan) Kabupaten Blitar Dedi Prastowa mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir berpotensi menurunkan jumlah produksi ikan. “Hasil tangkapan ikan memang bergantung pada cuaca, kondisi ombak, dan arah angin,” ungkapnya.
Akibat cuaca ekstrem tersebut, jumlah tangkapan ikan per Juli hanya sekitar 850 kilogram untuk kapal besar. Sedangkan dalam kondisi normal, bisa mendapat 4-5 ton ikan. Sementara kapal dengan ukuran kecil hanya 10-15 kilogram. “Bahkan ada yang tidak dapat ikan sama sekali,” ujarnya.
Menurutnya, ikan cenderung menyukai air yang cukup tenang. Sedangkan jika kondisi ombak cukup tinggi, ikan akan bersembunyi di dasar laut atau berpindah untuk mencari lokasi air yang tenang. Hal tersebut tentu mempengaruhi hasil tangkapan nelayan.
Di tengah kondisi cuaca ekstrem, disnakkan meminta nelayan untuk tidak berlayar. Sebab, ombaknya terlalu kencang bisa membahayakan keselamatan nelayan. Apalagi untuk kapal yang berukuran kecil. Saat cuaca ekstrem, nelayan sempat tidak berlayar hingga dua Minggu. (mg1/sub)
Editor : Doni Setiawan