KABUPATEN BLITAR - Delapan bulan pascakebaran Pasar Kesamben belum juga ada tanda-tanda perbaikan. Kios sementara yang digunakan para pedagang tidak bisa menjadi sarana perdagangan yang optimal. Indikasinya, omzet penjualan padagang menurun hingga 50 persen.
Informasi yang berhasil dihimpun, setidaknya ada 260 lapak, 49 kios, dan 50 lapak semipermenen di Pasar Kesamben yang menjadi sasaran si jago merah pada November 2022 lalu. Segel polisi masih menempel di area ruko yang berada di bagian barat pasar tersebut. “Sekarang sepi, jarang orang yang berbelanja pasar,” ujar seorang pedagang Pasar Kesamben, Suprihatin.
Dia mengatakan bahwa pengunjung sepi pascakebakaran. Akibatnya, dagangan yang biasanya habis terjual dalam sehari, kini menyisakan separo lebih. “Sekarang cukup sulit menghabiskan dagangan,” imbuhnya.
Perempuan paro baya ini menambahkan, ada tantangan baru pascakebakaran Pasar Kesamben. Karena lokasi jualan yang terbatas, maka diterapkan sistem sif jualan. Akibatnya, tak banyak dagangan yang bisa terjual lantaran waktu dagangan yang singkat. “Sekarang ada sif siang dan malam. Jadi tidak bisa berdagang dengan waktu yang lama,” keluhnya.
Dia mencontohkan, pedagang sayur kini praktis hanya melayani pedagang keliling. Sebab, pada pukul 08.00, dia harus segera tutup lapak dan memberikan jatah jualan untuk pedagang lain. “Sayur itu datang dari petani atau pedagang luar daerah sekitar pukul 02.00. Jam 08.00 harus sudah tutup, jadi tidak bisa melayani masyarakat yang belanja pagi,” ungkapnya.
Perempuan yang 20 tahun menggantungkan nasib di Pasar Kesamben ini memahami penerapan sistem jualan tersebut. Banyak pedagang yang membutuhkan kesempatan menjajakan dagangan pascakebakaran Pasar Kesamben. Namun, sarana perdagangan di lokasi tersebut relatif kurang. Akibatnya harus rela untuk berbagi pendapatan dengan rekan pedagang lain. “Makanya pasar harus segera dibangun kembali agar kondisi pedagang tidak seperti ini,” harapnya.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan bakal banyak pedagang yang gulung tikar. Itu karena para pedagang tidak mungkin bisa bertahan lama dengan kondisi ekonomi yang sulit tersebut. “Omzet selalu tidak sesuai target. Padahal kebutuhan tetap,” imbuhnya.
Hujan juga menjadi tantangan lain yang mengintai para pedang. Betapa tidak, air di gorong-gorong pasar meluber ke ruas jalan, bahkan nyaris masuk ke stan jualan. Para pedagang khawatir dagangan mereka terendam. “Kalau hujan susah. Karena jalan banjir di sini. Aliran airnya jebol, hampir masuk kios-kios. Naiknya cukup tinggi. Untung cepat surut,” ucap pedagang kain, Tri Yuni.
Para pedagang berharap langkah cepat pemerintah daerah dalam membangun Pasar Kesamben. Dengan begitu, bisa kembali lagi berdagang di ruko mereka yang lama, dan barang dagangan laris manis terbeli seperti dulu lagi. (mg2/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan